• Lama baca: 8 menit →

MENGHARGAI KHAZANAH DALAM ERA DIGITAL.

»»» CARA HEMAT WAKTU: Bacalah judul, subjudul/intro, kemudian langsung ke paragraf penutup tulisan ini. :)

Judul di atas itu sebuah tanya. Anda, para penyuka musik Indonesia, yang mestinya tahu seberapa perlu, seberapa penting. Perlu berarti sebaiknya ada. Penting berarti harus ada — tidak boleh tidak, kata generasi tua.

Informasi digital

Nah, mumpung ada waktu saya tadi secara acak mencomoti beberapa CD saya lalu memasukkannya ke dalam komputer yang terhubung ke internet. Tepatnya terhubung ke Gracenote (dulu CDDB). Di sanalah musicID bersarang dan menjadi standar industri musik.

Maka agak aneh juga, untuk album baru, bikinan anak muda, ada yang tak menyertakan info pendukung yang ramah digital dalam kemasan fisik (CD).

Misalnya grup jazz Sarimanouk (F.A. Talafaral, Julian Marantika, Doni Sundjoyo, dan Sandy Winarta), dengan album Sarimanouk (LikeEarth Recording dan DeMajors, 2011). Tak ada judul lagu maupun judul album. Hanya ada judul generik oleh mesin pembaca: Track 01, Track 02, dan seterusnya.

Langkah Sarimanouk yang tumbuh dalam era digital ini tampaknya mengikuti seniornya yang mengalami dua dunia, analog dan digital. Lihat saja album Biola tak Berdawai dari Addie M.S. dan Victorian Philharmonic Orchestra (Kalyana Shira Film dan Warner Music Indonesia, 2003). Informasi dalam cover sleeve sangat lengkap, tetapi musicID hanya menampilkan Track 01, Track 02, dan seterusnya. Sayang sekali.

»» Lagu Biola tak Berdawai terlampir di situ. Info digital saya tambahkan. Mohon maaf untuk pemilik hak cipta. Catatan: Harap bedakan dari lagu yang berjudul sama dari Kangen Band.