↻ Lama baca 2 menit ↬

KISAH BUNDA IFFET MENYELAMATKAN SLANK.

Melihat putranya sakauw, seorang ibu harus membiarkan bandar didatangkan dari Jakarta, mendarat di Bandara Juanda, Surabaya, untuk menukar serbuk setan dan uang. Ini supaya Slank bisa tetap manggung di Bojonegoro bersama Bimbim. Orangtua terpaksa berkompromi, ini seperti kisah Ronny Pattinasarany menangani kedua putranya.

Sebelumnya sempat terjadi dialog Bunda Iffet dengan Bimbim, putranya yang drummer Slank itu, dalam sebuah hotel di Bojonegoro, 113 km dari Surabaya, “Kalau nggak tampil, kita mesti ngebalikin uangnya nanti.”

“Aku nggak peduli, masa bodo! Balikin aja!”

“Bim…”

“Udah deh Mama nggak usah ngurusin aku, keluar sana!”

Bunda, yang punya buku harian, mencatat, “Kasar sekali dia.” (Terpaksa Menjemput Maksiat, halaman 117).

Buku ini menyentuh, karena menguji ketegaran seorang ibu, yaitu Iffet Veceha Siddharta (@veceha), yang kini hampir 74 tahun, dalam mengatasi kecandan putra maupun Kaka (keponakan yang dia asuh sejak kecil sepeninggal ibunya), plus seorang rekannya di Slank (Ivan) dari ketergantungan narkotika. Selama bertahun-tahun. Sungguh tak mudah. Sangat mengasah kesabaran.

Cerita tentang perjuangan Bunda menyelamatkan anak-anaknya dan Slank dari narkoba sudah banyak tersebar. Dan buku ini adalah paket kompletnya. Darmawan Sepriyossa berhasil mengangkat penuangan Bunda dengan pas, mengalir, dan enak.

Menyelamatkan Slank? Ketika anak-anak itu kian menjadi, order manggung pun merosot — bahkan gebukan drum Bimbim makin lemah. Tak ada sponsor yang sudi. Bunda harus turun tangan, membenahi manajemen band, dengan mengajak Slank ngamen di panggung kecil, termasuk sekolah dan kampus.

Kesan saya sebelum bertemu Bunda dia adalah perempuan perkasa. Ternyata benar. Dalam Obrolan Langsat (Obsat) tahun lalu dia menunjukkan satu hal: kasih sayang dan kesabaran seorang ibu dalam menangani masalah anak-anak dan keluarga.

Sebagai hasil tuturan seorang ibu yang pernah menjadi guru TK, buku ini mencatat hal-hal yang lucu dan kadang menyentuh tentang sebuah keluarga. Misalnya karena sering menyelenggarakan kerja bakti, Bunda memergoki grafiti “Kaka Top” yang dibuat Kaka ABG ada di tembok-tembok tetangga. Pada bangku sebuah SMP, ketika Bunda mengambil rapor Kaka, tulisan itu juga ada.

Ketika dari perkawinan keduanya Bimbim tak kunjung mendapatkan anak, dia bilang ke ibunya pada suatu sarapan, “Cariin dong Ma, obatnya.” Bunda mencatat, “Dia meminta, tetap dengan pandangan seriusnya… (My Princess, My Life, hal. 181).

Selain tentang ketegaran seorang ibu, buku ini mencatat kesabaran dua anggota Slank yang tak menjadi budak narkoba, yaitu Abdee dan Ridho. Mereka itulah yang harus menghadapi dua pendiri dan seorang anggota Slank sekaligus menabahkan Bunda.

Dengan mereka berdua pula Bunda punya cara untuk menujukkan enaknya jadi orang sehat: dalam setiap tur selalu jalan-jalan mengenal kota, bukan hanya di kamar hotel sepert tiga Slank lainnya karena badan lemah akibat obat setani. Dalam acara Obsat 13 Desember 2010 itu, Bunda berkisah bahwa dalam tur putranya sering tak ingat habis mentas di mana.

JUDUL: Rock n’ Roll Mom • PENULIS: Bunda Iffet & Darmawan S. • PENERBIT: Hikmah, Jakarta, November 2010 • TEBAL: vii + 304 halaman • HARGA: Rp 54.000