• Lama baca: 2 menit →

Pertanyaan dalam judul itu pasti akan Anda sebut jayus dan basi banget. Bahkan cara penulisan saya, “e-mail” bukan “email”, pun old fashioned banget. Saya memang jayus dan basbang, masih membedakan electronic mail dan lapisan gigi.

Kenapa saya tanyakan? Terkabar orang semakin meninggalkan e-mail. Alamat e-mail lebih untuk registrasi dan aktivasi layanan ini dan itu. Untuk pertukaran pesan, banyak orang semakin memanfaatkan layanan media sosial, termasuk pesan jalur pribadi.

Selain itu, untuk pesan pendek, pengguna BlackBerry memakai layanan tertutup BBM. Bahkan beberapa teman saya lebih sreg jika mengirim pesan via DM-nya Twitter. Mereka berasumsi, meskipun saya tak setiap saat gatal berkicau pasti saya memeriksa direct messages.

Maka Mark Zuckerberg, juragan Facebook, dua pekan lalu bilang bahwa yang namanya pesan itu harus tiba sesegera mungkin, tak harus via e-mail, cukup “social inbox”. Dia dan para pemain layanan mayantara pasti sadar bahwa mobile gadgets mempercepat perubahan peta pertukaran pesan.

Dalam kasus kita, kalau ponsel murah ber-Wi-Fi buatan Cina sudah bisa mengakses Facebook dan Twitter, kenapa juga masih harus bergantung pada komputer di kantor dan warnet hanya untuk membaca e-mail yang jenisnya antara penting dan tak penting?

E-mail dan layanannya memang menarik karena mengubah cara kita berkomunikasi dan menyatakan diri. Dulu, awal 90-an, hanya pelanggan ISP dan anggota lembaga (perusahaan, yayasan, universitas) serta pemilik domain yang punya alamat e-mail.

Lantas layanan berbasis web seperti Hotmail mengubahnya: setiap orang bisa punya alamat e-mail. Seterusnya, e-mail menjadi salah identitas karena unik. Tak mungkin ada alamat e-mail kembar, kecuali salah satu meniru atau membajak akun.

E-mail juga menarik karena… mengubah arti simbol “@” yang dulunya berarti “setiap” untuk satuan barang/harga menjadi “at” dan sejenisnya – pokoknya berhubungan dengan internet. Pada beberapa negeri yang tata letak tombol mesin tiknya agak beda, tanda “@” sempat merepotkan karena memang tak tersedia. Kibor komputer kemudian menjawabnya. Dan “@” pun menjadi ikonis.

Nah, kembali kepada judul, berapa akun e-mail yang Anda miliki dan… tetap Anda gunakan secara aktif untuk menerima dan terlebih mengirim pesan, tapi di luar urusan spammng?

Mungkin ada yang memiliki lebih dari dua. Adapun yang dua itu adalah alamat e-mail dinas dan alamat e-mail pribadi.

Selebihnya bisa alamat e-mail berdomain sendiri (“Sekarang udah nggak keren,” kata seorang kawan), dan bisa juga alamat e-mail sementara dari layanan semacam 10minutemail.com.

*) Dimuat di Kolom Paman Tyo, detiknet.com, Senin 29 November 2010, 13.46

Pemilik BlogSalinandetikinet,e-mail,gedget,hotmail,inbox,kolom paman tyo,media sosial,pesanPertanyaan dalam judul itu pasti akan Anda sebut jayus dan basi banget. Bahkan cara penulisan saya, “e-mail” bukan “email”, pun old fashioned banget. Saya memang jayus dan basbang, masih membedakan electronic mail dan lapisan gigi. Kenapa saya tanyakan? Terkabar orang semakin meninggalkan e-mail. Alamat e-mail lebih untuk registrasi dan aktivasi...Suatu atau sebuah blog?