• Lama baca: 2 menit →

Kreatif, pikir saya ketika pekan lalu melihat papan pengumuman di Mal Pondok Indah, Jakarta, itu. QR code ditonjolkan. Si pemasang tahu bahwa smartphone, terutama BlackBerry, semakin meluas penetrasinya. Gambar itu tinggal dijepret pakai kamera ponsel, diolah, dan sampailah si pemilik ponsel pada sebuah penyaji informasi di internet.

Bagi saya barcode adalah sesuatu yang unik. Bukan hanya unik bagi peranti pembaca (kalau tidak unik maka identitas Anda sama dengan mangga gadung di toko), tetapi juga dalam kehidupan manusia modern. Begitu mengikonnya barcode sehingga diterapkan ke dalam tato dan logo (ingat Radio Trijaya?).

Dulu majalah Humor (sudah mati) selalu menggunakan barcode di sampulnya untuk lucu-lucuan. Garis-garis tegak itu dimainkan, misalnya sebagai tirai atau tali, lalu ada orang yang mengganduli.

Indonesia belum terlalu lama menggunakan barcode, baru akhir 90-an penggunaannya meluas. Maka pada tahun 80-an ada sebuah majalah di Jakarta yang ingin gegayaan memakai barcode supaya seperti majalah luar negeri. Redaksinya tak tahu bahwa itu ada artinya. Lebih celaka lagi, mesin pembaca barcode memang belum meluas. Saat itu kasir toko tak memindai kode batang, tapi mengetikkan kode barang.

Pada pertengahan 2000-an, penggunaan barcode untuk penerbitan di Indonesia semakin meluas, terutama untuk ISSN dan ISBN. Selain itu juga untuk mempermudah bagian distribusi mengelola jualan.

Saat itu sebuah jaringan toserba besar menambah rabat untuk produk cetak tak ber-barcode. Semacam denda begitulah. Maka kelabakanlah sebagian penerbit. Pernah beberapa kali terjadi, tim grafis sebuah majalah harus meminta dibuatkan barcode ke pemimpin redaksi majalah lain.

Kini kita mengangap barcode sebagai barang biasa. QR code kita pun kemarin kita jadikan sarana bergaya di kaos, kartu nama, mug, dan blog. Online generator-nya tersedia.

Tapi tahukah Anda ada barcode yang berdekatan dengan angka keramat “9”? Ada sebuah pabrik rokok yang dulu membayar buruh karyawannya setiap tanggal 9, 18, dan 27 –– masing-masing akan berujung ke angka 9, sesuai kredo perusahaan. Pelat nomor mobil operasional bahkan nomor telepon mereka pun bertemu akan 9. Pernah saya saya cek, IP address-nya pun berujung ke angka 9.

Pabrik dan merek rokok itu sudah berganti pemilik (asing). Tapi barcode produknya masih berujung ke angka 9! Lihat gambar.

*) Dimuat di Kolom Paman Tyo, detikinet Senin 18 Oktober 2010

Pemilik BlogSalinanbarcode,detikinet,kolom paman tyo,qr code,rokok,sampoerna,takhayulKreatif, pikir saya ketika pekan lalu melihat papan pengumuman di Mal Pondok Indah, Jakarta, itu. QR code ditonjolkan. Si pemasang tahu bahwa smartphone, terutama BlackBerry, semakin meluas penetrasinya. Gambar itu tinggal dijepret pakai kamera ponsel, diolah, dan sampailah si pemilik ponsel pada sebuah penyaji informasi di internet. Bagi saya barcode...Suatu atau sebuah blog?