• Lama baca: 3 menit →

BELAJAR DARI RUBRIK JODOH.

Foto di pojok kiri atas Kompas Minggu itu rada beda dari biasanya. Bukan karena menghasilkan lukisan (lihat gambar bawah).  Ini bukan sekadar pas foto, pun bukan foto pose dengan latar lumut. Memang sejauh saya tahu tak pernah ada foto memonyongkan bibir dengan kepala nèngklèng, warisan gaya Friendster itu. Yang pasti kali ini berbeda.

Soal foto, ah akhirnya biasa sebetulnya. Jejaring sosial membiasakan kita dengan aneka foto diri. Foto dan info yang ditampilkan sesuai selera si empunya profil. Lantas di luar foto apa menariknya?

Dalam kasus rubrik Kontak/Pertemuan Kompas adalah… teks yang generik! Pemerian diri hampir sama. Lihatlah Kata-kata kunci yang akhirnya biasa sehingga tak perlu dibaca: humoris [sic!], sehat jasmani rohani, sabar, jujur, setia, serius, siap nikah.

Saya tak tahu apakah itu ulah editor yang ingin membuat semua orang mirip, dan yang menjadi unikum hanya kode peserta (kelak diganti QR Code), atau karena peserta hanya mengikuti contoh, sehingga kalau diperas tinggal “wanita mencari pria” dan sebaliknya, sesuai esensi rubrik jodoh?

Saya bicara media cetak. Di dalamnya ada proses penyuntingan. Jika itu dipindahkan ke media digital dengan mengikuti kaidah digital, maka semua kata akan mendapatkan tautan yang sangat banyak sehingga kita bingung. Mirip kata “books” dan “jazz” dalam profil diri di Blogspot.

Untuk media digital, kita memang sudah terbiasa dengan pertautan. Pada abad lalu, salah satu yang membiasakan kita adalah Amazon. Preferensi kita terhadap judul, topik, dan pengarang buku, begitu pula terhadap musisi dan genre-nya, akan diikuti oleh pembingkaian konteks minat untuk kemudian dipertautkan dengan produk dan orang lain.

Hmmm… apakah kemudian saya mengharapkan kertas dapat lebih interaktif seperti web? Bukan itu persoalannya. Toh teknologinya sudah dikembangkan — bedakan dengan versi daring sebuah koran. Persoalannya adalah pada isi.

Selama ini sebagian dari kita menganggap hanya internetlah yang mengantar kita kepada kesadaran pengemasan citra diri.  Sama seperti kita mengisi profil di Facebook, blog, dan lainnya. Ada nama, foto, dan deskripsi diri.

Padahal ternyata, meski tidak diam-diam, sudah lama masyarakat, dalam hal ini konsumen media, melakukannya dalam rubrik sahabat pena (yang ini sudah arkais) dan jodoh.

Sekarang, ketika media sosial kian membahana, menjadi aneh ketika deskripsi per entri dalam rubrik jodoh hampir seragam. Kekayaan teks seperti dipinggirkan. Padahal dari keleluasaan mengemas pesan kita dapat belajar banyak.

Maka mestinya bisa saja ada foto diri ala caleg bingung yang memakai baju Superman, dengan deskripsi, “Seorang pria gagah gemulai yang selalu bermimpi menggergaji Matahari ingin memperistri juwita yang tak lelah merebus arloji. Syarat: blablabla…

Juga, “Seorang perempuan penuh hasrat di ujung senja, yang tak lagi disapa rembulan titipan Dewi Kesuburan, tapi masih dambakan kebersamaan dengan pria muda yang penuh keingintahuan akan jelajah asmara…

Itu misal lho. Tapi kalau mau seaneh dan seasoy itu pun boleh. :D

Oh ya, memang bukan sekali ini saya membahas rubrik jodoh. Konten yang ini menarik karena merupakan ajang konsumen media untuk menyatakan diri dan berinteraksi — serupa iklan baris tetapi berbeda tujuan.

Pemilik BlogSelinganbujang lapuk,butuh istri,butuh suami,jodoh,jomblo,kesepian,kompas minggu,perawan tua,perkawinan,pernikahan,profil,seksBELAJAR DARI RUBRIK JODOH. Foto di pojok kiri atas Kompas Minggu itu rada beda dari biasanya. Bukan karena menghasilkan lukisan (lihat gambar bawah).  Ini bukan sekadar pas foto, pun bukan foto pose dengan latar lumut. Memang sejauh saya tahu tak pernah ada foto memonyongkan bibir dengan kepala nèngklèng, warisan gaya...Suatu atau sebuah blog?