• Lama baca: 2 menit →

MUNGKIN BASI, TAPI TETAP MENGGUGAH.

Ternyata saya memang kurang perhatian. Sudah cukup lama saya tahu kehadiran pensil O’bon di toko dengan kemasannya yang cantik (@ Rp 4.000). Tapi baru tadi saya ngeh bahwa pensil itu tidak berbahan kayu melainkan kertas koran — itu pun setelah diberitahu anak saya. Lantas saya membuktikannya. Ketika diserut, ujung pensil menampakkan gulungan kertas. Sungguh sebuah kemajuan dalam empat abad pensil.

Jelas, pensil ini mengibarkan semangat cinta lingkungan. Wajarlah jika karton wadah pensil pun bisa dijadikan pembatas buku.

pensil o'bon berbahan kertas koran

Teks pada karton itu menarik, berupa trivia. Disebutkan, zebra (yang menjadi salah satu tema kemasan) memiliki pendengaran dan penglihatan tajam. Mereka bisa hidup sampai usia 45 tahun. Syukurlah saya sudah lebih tua daripada zebra.

Yang tak disebutkan di situ adalah ajaran saya kepada Gembul, Desember lalu, tentang cara membedakan zebra jantan dan betina. Yang jantan itu kulit tubuhnya berlatar putih dengan garis hitam, sedangkan yang betina adalah sebaliknya. Selama semenit juragan warung itu merenung. Akhirnya dia terbahak-bahak, “Paman ngerjain aku!”

pensil o'bon berbahan kertas koran

Kembali ke pensil. Ide macam ini layak dikembangkan di sini. Tentu nggak harus berupa pensil,tapi produksi entah apa yang membawa maslahat (antara lain berbagi pengetahuan) dan melibatkan banyak orang.

Anda punya ide?

© Ilustrasi proses produksi pensil: obonpencil.blogspot.com

Pemilik BlogSelinganangkringan wetiga,daur ulang,gembul,kertas koran,lingkungan,o'bon,pensilMUNGKIN BASI, TAPI TETAP MENGGUGAH. Ternyata saya memang kurang perhatian. Sudah cukup lama saya tahu kehadiran pensil O'bon di toko dengan kemasannya yang cantik (@ Rp 4.000). Tapi baru tadi saya ngeh bahwa pensil itu tidak berbahan kayu melainkan kertas koran -- itu pun setelah diberitahu anak saya. Lantas...Suatu atau sebuah blog?