↻ Lama baca < 1 menit ↬

Pelat nomor mobil Jakarta yang unik dan tentu eksklusif, misalnya B-1-RDS, menurut seorang pembaca Kompas harus didapat dengan menyetor Rp 40 juta – Rp 50 juta kepada biro jasa dan polisi.

Salah sendiri, kata Anda. Kalau mau unik dan eksklusif, sehingga membanggakan, ya kudu membayar lebih. Kalau maunya membayar sesuai standar ya cuma dapat nomor generik, kata Anda lagi.

Misalkan Anda bilang begitu, saya setuju. Bahwa nomor unik akhirnya menjadi mudah dikenali dan mengganggu privasi, itu soal yang lain lagi. Itu risiko.

Percayalah, saya tidak sirik. Saya juga senang dan kadang geli kalau melihat pelat nomor unik yang cocok di hati. Hidup ini menjadi membosankan kalau semuanya generik.

Bagi saya yang lebih utama ini: kenapa nomor unik itu tak dilelang saja untuk keperluan amal?

Kalau tak salah Jakarta pun likuran tahun lalu pernah melakukannya. Seperti di negeri lain itulah. Sesuatu yang unik, eksklusif, dan diperebutkan itu dijual mahal sekalian buat kemaslahatan banyak orang.

Andaikan kita bisa melakukannya, nomor mahal untuk amal, yang prosesnya dibuat transparan dengan pengawasan auditor independen, tentu mulia.

Lho, bukannya jual-beli nomor unik sudah menjadi bagian dari kegiatan amal? Oh maaf, saya lupa. Itu amal untuk orang-orang biro jasa dan kantor polisi. Maaf lho ya.

© Foto ilustrasi: pelat nomor mobil Ibaz anak SBY oleh Wisnu Nugroho

Nota: Contoh nomor dalam judul hanya rekaan