↻ Lama baca 2 menit ↬

SIAPKAH ANDA MENINGGALKAN PONSEL?

promo xl di trotoar

Kemarin siang saya melihat sekelompok orang di pertigaan membawa spanduk dan megapon. Bukan unjuk rasa, melainkan promosi XL Bebas. Apa yang diteriakkan tak jelas karena dilindas suara puluhan knalpot kendaraan di lampu merah Jalan Panjang, Kebonjeruk, Jakarta Barat.

Begitulah, perang operator kian ramai — bahkan bisa agak kasar. Masing-masing mengklaim diri sebagai yang termurah dalam memungut ongkos bicara melalui ponsel. Tapi Budi Rahardjo dan Vavai mempersoalkan apa yang disebut murah dan untuk siapa saja tarif murah itu.

promo xl bebas di trotoar

Sebelumnya, saya pernah menganggap jor-joran obral tarif prabayar ini sebagai penelantaran terhadap pelanggan pascabayar. Gerutu itu kemudian ditindaklanjuti oleh koran Kontan.

Bagaimana memperbandingkan tarif operator, ada satu-dua media cetak tentang selular yang menyediakan tabel. Tapi maaf, saya tak hapal tarifnya.

Kira-kira sebelas tahun lampau, saya tak membayangkan bahwa perang operator akan seriuh ini. Maklum waktu itu ponsel masih mahal. Ketika dollar Amrik masih Rp 2.000-an, harga pesawat Ericsson GH688 sekitar Rp 1,7 juta.

Hansdset itu berlayar monokrom, antenanya mencuat, SMS yang masuk tidak bisa menampilkan nama dari buku telepon. Catatan: SMS pun hanya bisa kirim dan terima dari operator yang sama.

Saat itu perang belum terasa gencar. Prosedur mengurus pelangganan sama ketatnya — atau lebih ketat dari — kartu kredit. Fitur? Untuk identifikasi pemanggil, dan pengiriman SMS, ada operator yang memungut biaya tambahan, masing-masing (kalau tak salah) Rp 10.000 per bulan.

Pada 2002, ketika ponsel kian terjangkau, sesuatu yang telat pun dibuka: SMS lintas-operator. Saat itu pemasaran dan pemakaian kartu prabayar — yang kabarnya adalah hikmah krismon — sudah meluas.

Lantas pasar pun kian bergairah. Sebagai produk teknologi maju, ketersediaan pesawat ponsel, aksesoris, serta kartu perdana dan pulsa menjadi sangat merakyat. Ada di mana-mana. Lebih gampang mencari voucher pada dini hari daripada baterai AAA apalagi baterai kancing LR44.

Akhirnya semua orang butuh ponsel. Hanya balita yang belum butuh — kecuali untuk dimainkan dan dibanting. Kelangkaan fixed phone, dengan tarif yang sewenang-wenang itu, terobati oleh ponsel.

Mereka yang kadung merasakan manfaat ponsel akan berat jika meninggalkannya. Dan operator sejak awal tahu soal itu. Hanya sedikit orang yang tega bercerai dari ponsel.

Hasilnya? Makin banyak orang yang punya lebih dari satu handset, dengan operator yang berbeda. Nomor lama (apalagi pascabayar) sulit ditinggalkan, kecuali pemiliknya siap mengirim ratusan SMS pemberitahuan. Lagi-lagi operator yang untung. :D