↻ Lama baca 4 menit ↬

MENCARI CELAH KEBAHAGIAAN DALAM KEHIDUPAN… :)

Jika jalan ke A macet, padahal jalan ke C (kutub yang berseberangan, jauh pula) lancar jaya, keputusan macam apakah yang mesti kita ambil?

Kadang saya memilih ke C, yang bukan tujuan saya, semata karena tidak macet parah. Yang penting selama perjalanan saya hepi.

Memang sih sampai di tujuan baru, yang tidak saya rencanakan itu, saya bingung mau ngapain. Tapi kewarasan saya segera pulih dan segera tahu apa yang harus saya lakukan.

Sama seperti dulu: lelah menunggu bus kota yang tak sesak penumpang ke Grogol (Jakarta Barat) dari depan UKI (Cawang, Jakarta Timur), akhirnya saya memilih bus kota yang menyediakan tempat duduk. Saya lupa ke mana tujuan bus itu. Kalau tak salah ke pelabuhan di utara sana. Padahal kantor saya tak di sana. :D

Pernah dari Salatiga mau ke Kartosuro dulu, saat kuliah, busnya penuh penumpang semua. Padahal dari Kartosuro, rencana saya, akan berganti bus ke Yogya.

Saya lihat bus-bus jurusan Semarang, yang bukan tujuan saya, pada kosong. Maka saya pun naik bus jurusan ke utara, bukan ke selatan. Tapi baru sampai Ungaran saya sudah bisa menata pikiran. Batal ke Semarang, turun, ganti bus, menuju Yogya via Bawen dan kemudian Magelang.

Dua hari lalu saya lakukan prinsip pada tiga paragraf awal tadi.

Sudah dua jam lebih, sejak meninggalkan Dharmawangsa Square, saya belum juga tiba di Gandaria, padahal sudah mendekati Mayestik. Normalnya sih sekitar 20 menit.

banjir di sekitar dharmawangsa square & grand wijaya center

Genangan air dan banjir di bilangan Wijaya dan Brawijaya telah mengakibatkan kemacetan parah. Masih untung, dari Square ke Brawijaya (PP) saya dijemput-antar sopir SUV dari seorang mbak juragan.

Kemacetan gila itu mengikis kewarasan saya. Untung kesadaran belum habis sampai nol. Malam itu saya sadar, semua orang yang memenuhi jalan itu menuju ke arah selatan Jakarta: pulang ke rumah. Artinya jalan ke pusat kota pasti lancar.

banjir di sekitar dharmawangsa square & grand wijaya center

Segera saya dapatkan jalan lengang. Dari Bulungan ke Semanggi tak sampai sepuluh menit. Tapi ketika akan belok ke Plangi, saya terhalangi barikade — perkembangan baru yang saya telat tahu.

Maka saya harus menambah 30 menit lagi, memutar via Kuningan, agar bisa masuk ke Plangi untuk rehat dan mengembalikan kewarasan. Sial, kedai untuk selonjor sudah hampir tutup.

Tak apa, yang penting kewarasan saya mulai pulih. Tetap akan ke Gandaria juga? Masih macet. Kewarasan saya menganjurkan tempat lain, yang pokoknya tidak macet, padahal jauh dari Gandaria dan tidak ada hubungannya dengan Gandaria. Alhasil saya bahagia lahir dan batin.

Bukankah urusan Gandaria jadi terbengkalai? Itu bukan salah saya. Itu kesalahan jalan raya kenapa boleh kena banjir dan boleh kena macet. Kalau akan dibikin banjir dan macet mestinya diberitahukan lebih dahulu sehari sebelumnya. :D

Saya menganggap cara saya waras. Diam-diam melawan arus, atau berbeda dari orang lain, kadangkala membahagiakan.

Kalau berangkat kerja pada jam enam pagi hanya akan tersiksa oleh kemacetan, maka berangkatlah pukul empat atau lima pagi. Pasti lancar jaya. Terbukti berulangkali (lihatlah jam beberapa posting saya, termasuk di blog lama).

Jika pulang kerja pada pukul lima sore sampai delapan malam bakal tersiksa lalu lintas sontoloyo, pulanglah pukul dua malam atau pukul empat lagi. Jalanan lancar sekali. Amat sangat lancar nian, apalagi lewat tol.

Sayang istri saya menganggap cara ini aneh. Dia pun tak menyukai cara yang menurut saya masuk akal dan cocok untuk kesehatan jiwa maupun raga. :D

Hanya istri saya? Tidak. Satpam kantor juga pernah menganggap saya aneh. Bahkan pernah oleh penjaga saya dimintai surat untuk masuk kerja pada jam yang membahagiakan saya — jam dan hari ketika kantor kosong, sehingga internet lancar dan saya bisa memutar audio sekencang-kencangnya, bila perlu ikut berteriak.

Meski begitu, seumur-umur bekerja jadi pegawai saya belum pernah mendapatkan kebahagiaan yang saya idamkan. Apa itu?

Masuk kerja pada hari libur, bila perlu menginap, dan saya memutuskan libur pada hari kerja secara mendadak kapan pun saya ingin, dalam jangka waktu yang juga sesuai hati saya. Itu belum pernah terwujud. Beberapa kali sampai terbawa ke mimpi.

Sampai hari terakhir bekerja, saya termasuk orang yang punya kumulasi cuti lumayan karena jarang saya gunakan (tak ada cuti hangus untuk pekerja tertentu). Tentu dengan pengandaian, cuti paksa yang dinamai “cuti bersama” (seperti di kantor lain) itu tak dihitung. :P

Bepergian saat libur kantor, apalagi hari raya dan musim libur sekolah, bukanlah hal menyenangkan bagi saya. Apa-apa harus dipesan jauh hari sebelumnya — suatu hal yang tak saya sukai, termasuk dalam tontonan dan hiburan. Tak ada diskon. Paling benar, bagi saya, adalah libur ketika orang lain tidak libur.

Akhirnya saya paham kenapa banyak orang rela bermacet-macet. Datang pagi ke kantor, katakanlah pukul empat, tak diperbolehkan masuk ke ruang kerja — kudu menunggu empat jam lagi. Orang mau kerja kok dihalangi. Aneh.

Memilih pulang pukul dua malam, tanpa surat lembur, akan diusir. Ingin sebulan menginap (termasuk pada tanggal merah) akan dipanggilkan psikolog. Tapi ingin sebulan di rumah, padahal sehat, akan dipecat. Kantor yang bengis. :D

Saya akhirnya juga paham kenapa banyak keluarga bepergian saat libur sekolah. Kita tidak bisa mengajak anak kita libur saat tes atau ujian, dan meminta guru memberikan pelajaran maupun tes saat libur semester di sekolah (bukan di rumah).

Kadang dunia memang tak membahagiakan. Apa boleh bikin.

Ada orang, saya lupa, kasih solusi yang jauh dari kewarasan, “Kalo nggak mau diatur, ya sana hidup di hutan.”

Ada pula macam, “Jadi, kalau lapangan sepakbola terendam banjir, pemainnya diminta main basket di hall?” Analogi yang memaksa. :D

Ada juga sih yang bilang, “Kalo situ maunya apa-apa sesuka hati, yang menggaji juga boleh semaunya sesuai mood, nggak hanya tanggal gajian tapi juga jumlahnya.”

Ini jelas pikiran waras. Sayang menjengkelkan. :D