• Lama baca: 3 menit →

KEMBANG DAN GABUS DALAM KEHIDUPAN KITA.

kurir bunga di jakarta

Hanya penggemar kebasian yang akan menambahkan “… (bunga) bank”. Tapi memberikan bunga, sebagai sesuatu yang klasik (bagi sebagian orang), mungkin juga dibilang basi oleh orang lain.

Yah, ada saja perlambang untuk menyatakan sejumlah hal, dari kesal, cinta, sampai sesal — atau gabungan semuanya.

Saya sendiri kurang paham sejarah penggunaan bunga dalam masyarakat kita. Hanya sebagai penghias, dari penghias rias pengantin sampai peti jenazah, atau memang bagian dari persembahan?

Yang kita lihat beberapa tahun belakangan, setiap petang di sekitar “patung pizza”, Senayan, Jakarta, adalah penjaja bunga potong yang dibungkus plastik. Pembelinya adalah para pelintas. “Hayah, sok urban,” kata si sinis kepada pembeli setangkai bunga.

“Orang sakit kok cuma dikasih bunga,” begitu gerundelan yang pernah saya dengar di rumah sakit. Saya tak tahu, siapa yang salah: pemberi atau penerima?

kurir bunga di jakarta

Lamunan itu muncul ketika saya melihat sepeda motor pembawa karangan bunga yang gesit menembus kepadatan lalu lintas. Sebuah lamunan yang bercabang ke mana-mana, antara lain sampai ke ojek. Beberapa florists tak perlu punya kurir yang digaji. Cukup mengandalkan ojek, kiriman akan sampai. Kadang laporan cukup via SMS.

Ketika saya masih bocah, di kota kecil saya yang dulu cuma sembilan kelurahan itu, hanya ada satu florist. Namanya kalau bukan Hyacinth ya Hyacintha. Pemesanan bunga duka cita dan ucapan selamat ya selalu ke sana.

Kemudian bunga menjadi kian lumrah di mana-mana. Penerima, dalam suka maupun duka, bisa kewalahan mengurusinya. Beberapa tahun lalu ketika BRI punya dirut baru, karangan bunga sampai dijejer di luar gedung markas dekat Jembatan Semanggi.

Saya tak tahu apakah juragan besar akan menerima laporan siapa saja pengirim ucapan. Misalkan dia adwaktu, cukup 30 menit, untuk menginspeksi semua karangan bunga, pasti akan dianggap norak dan gamang jabatan oleh anak buahnya. Mestinya dia cukup meminta office boy atau satpam membuat blog, memotreti bunga dengan ponsel, jadilah sebuah laporan visual.

Bicara tentang bunga ucapan, yang seperti poster itu, saya terkesan oleh beberapa hal. Ukurannya besar, bisa dua meter kali satu setengah meter, berbahan dasar gabus, dengan tancapan bunga yang kadang tak terlalu banyak, karena yang penting adalah teks generik semacam “Selamat dan Sukses”, dengan tipografi dan warna yang “berani dan eksperimental”.

Nah, papan gabus tancapan itu, berikut tiangnya, kadang cuma berumur singkat. Petugas kebersihan tak mau repot, dan untungnya ada yang menampung. Reuse, recycle, memang bagus.

kurir bunga di jakarta

Masih tentang gabus berbunga, ternyata beberapa orang yang punya gawe mantu memesannya sendiri, untuk pemeriah suasana. Bukan hanya pemeriah sih, kadang sekalian sebagai penunjuk supaya tamu yang akan mendatangi pernikahan “Ijul & Siti” tak kesasar ke “Udin & Meri”.

Gabus berbunga pesanan sendiri biasanya tak mencantumkan nama pengirim. Cukup nama mempelai.

Pemilik BlogKomedi IndonesiaKEMBANG DAN GABUS DALAM KEHIDUPAN KITA. Hanya penggemar kebasian yang akan menambahkan '... (bunga) bank'. Tapi memberikan bunga, sebagai sesuatu yang klasik (bagi sebagian orang), mungkin juga dibilang basi oleh orang lain. Yah, ada saja perlambang untuk menyatakan sejumlah hal, dari kesal, cinta, sampai sesal -- atau gabungan semuanya. Saya sendiri kurang...Suatu atau sebuah blog?