↻ Lama baca 2 menit ↬

KALAU ISTRI TAKUT SUAMI?

penindasan gender

Guyon itu muncul lagi dalam kelas pagi ini. Tentang orang bermasalah, yang mengalami penjajahan berurutan. Dijajah Belanda, Jepang, Soekarno, Soeharto, bos kecil, bos besar, dan… istri. Kesimpulan: hanya lelaki sial yang mengalami itu. Para murid, pria maupun wanita, tertawa.

Dalam masyarakat patriarkal, dengan mitos tentang superioritas pria, suami yang didominasi istri adalah sesuatu yang tercela. Pantas jadi bahan tertawaan. Bahkan misalkan si lelaki terdominasi itu merasa bahagia, maka orang lain akan menyimpulkan bahwa penindasan berlangsung sangat efektif.

Begitu efektifnya sehingga si tertindas tak merasa ditindas. Jika ditambah dorongan masokistis, maka semakin bulatlah kebahagiaannya.

Tapi jika yang jadi korban penindasan oleh pasangan adalah wanita, apapun jenis status maritalnya, maka orang cenderung menoleransi.

Untunglah ada penyadaran dari kaum penganjur kesetaraan gender bahwa jenis kelamin bukanlah pembenar terhadap penindasan. Di luar pasal kelamin, apa pun yang jadi alasan penindasan juga jelas salah.

Namanya juga manusia, tak dapat dipetakan secara sederhana. Ada saja kasus individual yang menyimpang dari cita-cita bersama.

Kemarin pagi saya dengar dari seorang nyonya, yang selama ini tak suka penindasan, bahwa lelaki semacam Ahmad Dhani yang sangat dominan dalam banyak hal, termasuk kehidupannya dengan istri, itu justru sexy. Maksudnya pede, tegas, jelas, semua tindakan ada argumentasinya.

Jawaban “jalan tengah” juga banyak ragamnya. Normatif, kadang abstrak, tapi kira-kira begini intinya: tidak ada penindasan, masing-masing punya peran, pada saat tertentu si pria maupun wanita boleh (atau bisa) dominan, atas kesepakatan.

Kalau harus diatur terinci agar jelas, melalui perjanjian di depan notaris, jangan-jangan isinya seperti perjanjian kerja. Ini lembaga perkawinan (bisa juga cuma hubungan kasih, kalau tanpa nikah) atau kumpeni?

Jangan-jangan alasan sebagian orang yang memilih melajang (tapi punya kekasih) adalah ini: tak mau direpoti oleh soal mendominasi maupun didominasi berikut tawar-menawarnya. Kalau sakit hati atau nggak cuocuok ya tinggal say good bye — syukur bila sudah tersedia serep (bahkan lebih dari satu).

Tapi benarkah ketertindasan seorang istri cenderung ditoleransi, bahkan oleh yang bersangkutan, setidaknya pada tingkat olok-olok?

Seorang wanita ketika menjadi wakil presiden, dan kemudian presiden, selalu jengkel terhadap olok-olok itu. Makanya dia pernah “jothakan” (berumusuhan seperti anak kecil) dengan mitra utama politiknya karena diledek sebagai wanita yang disetir oleh suami.

Apakah saya termasuk pria yang takut terhadap istri? Ya. Tapi istri saya juga takut sama saya. Tentu akan ada yang mengoreksi dengan gaya Jawa: istri sampeyan itu takut apa gilo?

Ingatlah, pepatah Jawa mengatakan “witing tresno jalaran saka gilo lan kepekso“. Maaf, tidak ada terjemahan dalam bahasa Indonesia. :D

Selamat berakhir pekan. Saya harus kembali ke kelas. Jadi murid yang baik tapi ngeselin karena ngantukan dan bermain-main dengan notebook.