↻ Lama baca 2 menit ↬

GAGASAN BERBAHAYA KETIKA KITA TAK BERDAYA.

sepatu boot, yang penting ada nasi

Orang kecil tak hapal nama UU, PP, perda, apalagi pasalnya (ah, sama dengan kita). Permintaan mereka sederhana, “Kalo kagak boleh ya seterusnya kagak boleh. Jangan ini hari dilarang, besoknya boleh, pake ditarikin duit lagi, lantas entar dilarang lagi.”

Kalau disederhanakan, ungkapan sopir mikrolet M11 (Tanahabang – Kebonjeruk) itu adalah: butuh kepastian hukum. Uh, klise kan? Guyonan “low enforcement“, dan bukan “law enforcement“, sudah jadi superbasi.

Dengan cara sederhana pula saya menjelaskan kepada seorang bocah. Untuk penataan pedagang kaki lima, misalnya, saya merujuk trotoar di depan Istana Merdeka.

Memang ngarang sih, karena setahu saya belum pernah ada yang jual teh botol di sana, kecuali saat dulu ada demo mepet pagar istana.

“Di sana itu,” demikian saya menggombal, “kalo pagi kita nggelar dagangan, atau buka tambal ban, belon nyampe siang udah diusir.”

Juga saya katakan, kalau esoknya saya coba lagi, maka begitu menggelar plastik di atas trotoar saya sudah digebah.

Bangunan di bantaran sungai? Jawabannya tetap default: sekali ndak boleh tetap ndak boleh. Siapa pun yang bikin rumah tanpa IMB akan digusur tanpa ampun. Siapa pun. Di mana pun, tak hanya di bantaran sungai.

Bocah itu manggut-manggut, “Iya juga ya. Harus tegas kan? Kayak Singgapur?” Matanya berbinar. Tapi cuma sebentar. Lantas dahinya mengerut. Apa yang saya duga namun tak saya harapkan pun terlontar dari mulutnya: “Kalo nggak boleh jualan, kalo nggak bikin rumah, terus gimana dong?”

Tegas menerapkan peraturan, tetapi menyediakan solusi yang manusiawi supaya orang tak terkondisi untuk melanggar. Itulah masalahnya.

Jangankan saya. Anggota DPR, menteri, dan bahkan presiden sekalipun tak tahu jalan keluarnya. Padahal kurang apa hebatnya mereka?

Kalau sekadar menjawab sih bisa, apalagi kalau sama sederhananya dengan pertanyaan si bocah. Tapi merencanakan dan melaksanakan?

Hampir terloncat dari mulut saya, tapi untunglah batal karena tak mendidik, bahkan misalnya terwujud pun saya akan menentangnya. Sebuah gagasan utopis yang berbahaya, semata letupan frustratif, tapi bisa berakibat panjang.

Apa sih? Hampir saja saya bilang, “Pakai saja cara diktator. Seperti Lee Kuan Yew tapi versi yang dikawal malaikat*). Rakyat nggak dapet demokrasi tapi dapet kemakmuran, birokrasi yang bersih, andal, efisien, dan lingkungan yang tertata. Jangan kayak dulu: demokrasi nggak dapet, kemakmuran nggak tergapai, birokrasi dan penegak hukum nggak bisa diandelin — dapetnya cuma diktator korup.”

Berpikir lebih cepat daripada menata kalimat. Dalam rentang waktu yang sama saya teringat ucapan seorang eksekutif Singapura yang memilih berbisnis di Bali, memimpin cabang perusahaan software Spanyol untuk Indonesia.

“Saya tidak akan kembali ke Singapore sebelum Lee Kuan Yew mati. Saya tidak suka cara dia mengatur negeri. Kami butuh kebebasan,” katanya.

*) Maaf, saya khilaf. Sesungguhnya setiap diktator merasa dikawal malaikat dan mengemban misi mulia