↻ Lama baca 2 menit ↬

KUPING KITA TAK SANGGUP MENYERAP SEMUA MUSIK.

speakerRudi Loho, pencipta lagu Aku tak Biasa, kepada Nova mengaku mendapatkan royalti hampir Rp 700 juta dari Blackboard. “Kalau saya saja dapat segitu, apalagi Alda,” katanya.

Baiklah, sudah jelas persoalannya. Lagu laris — mestinya — mendatangkan rezeki. Yang tak jelas bagi saya sebagai awam musik maupun awam bisnis hiburan adalah apa yang bisa membikin sebuah lagu (dan album) bisa laku.

Saya tak paham pemasaran. Kuping saya tidak sepeka music director di stasiun radio. Lebih parah lagi: saya kurang mengikuti perkembangan musik.

Maka sebuah lagu yang meledak biasanya saya dengar dari pengamen dan anak kecil. Lagu Dan-nya Sheila on 7 saya dengar dari pengamen di KRL Jabotabek. Angin Paramaribo-nya Didi Kempot saya dengar pertama kali di atas Mayasari Bhakti — waktu itu saya pikir pengamennya keturunan Suriname. Bang Toyib hanya saya tahu judulnya, lantas ketika sudah jadi basi saya baru mendengarnya di dalam angkot KWK dan kemudian dalam taksi.

Lagu SMS? Saya tahu pertama kali dari keponakan saya, gadis mungil lucu kenes, saat dia berdendang dan menari di rumah saya. Nama Trio Macan dulu saya pikir guyonan Budibadabadu saat meninggalkan komentar, padahal ternyata ada sungguhan.

Intinya saya ketinggalan zaman. Tahu acara Thukul Arwana di TV pun dari koran dan blog.

Nah, kalau bicara rekaman laku dan tak laku, tenar dan tak tenar, saya punya cerita. Barusan saya membereskan sejumlah berkas dan mendapati beberapa CD musik Indonesia yang pernah saya beli. Bukan CD demo begitulah. Juga bukan CD indie/underground. Beberapa lagu tampaknya tak sampai ke pengamen — tapi itu bukan kesalahan pengamen.

Dunia ini ternyata belantara naskah dan karya musikal. Taruh kata kita tak pernah tidur seumur hidup maka belum semua naskah terbaca dan belum semua musik (atau kita anggap sebagai musik) sempat kita dengar.

Dari yang saya konversi ke MP3 ini mungkin Anda tahu lagu siapa saja dan apa judulnya? Kenapa tak laris? Kalaupun laris kenapa tak berumur panjang? Kurang radiolike? Tak layak disetel dalam angkot yang gerah?

• Trek #1: K.A.D. (2002)
[audio:KAD-2002.mp3|option1=value|option2=value]

• Trek #2: (gampang ditebak, sempat terkenal)
[audio:JP-77-2004.mp3|option1=value|option2=value]

• Trek #3: (gampang diterka, terlalu tenar)
[audio:IM-76-2001.mp3|option1=value|option2=value]

• Trek #4: K (2000)
[audio:K-2000.mp3|option1=value|option2=value]

• Trek #5: A.O.T.O. (2004)
[audio:A.O.T.O. (2004).mp3|option1=value|option2=value]

• Trek #6: K.N.P. (2005)
[audio:K.N.P. (2005).mp3|option1=value|option2=value]

• Trek #7: (lho, ini lagu?) — cocok untuk Hasan Aspahani
[audio:temanhasan.mp3|option1=value|option2=value]

Mohon maaf kepada para pemilik hak atas karya cipta. :) Pemuatan trek ini hanya sementara, lagi pula saya harus mengirit bandwidth. :D

© Ilustrasi: microlab-speaker.ru