• Lama baca: 3 menit →

TENAR, BERHASIL, NGGAK NANGGUNG.

chairman's chair

Menjadi pemimpin atau pemuka itu bagus. Begitulah yang ditanamkan kepada anak-anak sejak dini. Saya tak tahu, apakah kepemimpinan juga ditanamkan dengan bahasa yang sesuai pemahaman anak-anak.

Kesan saya sejak kecil, yang ditanamkan adalah “menjadi pemimpin itu bagus karena berkuasa, boleh mengarahkan teman-temannya”. Para orangtua juga bangga jika anaknya jadi ketua regu ini dan itu.

Kalaupun bukan ketua, setidaknya anaknya tenar, berpengaruh, selalu jadi pusat perhatian karena kenakalannya (dan kelucuannya). Jarang orangtua membanggakan anaknya sebagai anggota — tepatnya: anak buah — yang baik, dalam arti loyal terhadap korps maupun ketuanya.

Yah, gimana lagi. Nafsu untuk berkuasa — dalam arti bisa memengaruhi sikap dan perilaku orang lain — memang sudah bawaan manusia dari sononya. Setiap orang ingin diperhatikan, hanya saja kadarnya berbeda-beda. Orang yang paling introvert dan superpemalu pun masih butuh pengakuan bahwa dirinya ada, masih dianggap dan diterima oleh sekitar — bahkan keinginannya untuk tidak ditonjolkan pun maunya diamini oleh lingkungan. :D

Lantas apa hubungan itu semua dengan penanaman nilai “menjadi orang baik yang berguna bagi nusa dan bangsa”?

Kadang beberapa anak akan gelagapan oleh slogan yang mereka telan. Kalau menjadi dokter atau insinyur itu berguna, bagaimana dengan profesi lain, semisal petugas pelayanan pelanggan dan pengawas kelestarian hidup penyu?

Selama saya bersekolah, sejak SD sampai kuliah, yang sering dijadikan contoh sukses oleh para guru adalah alumni yang terkenal. Tenar, apapun lingkupnya, berarti ada di atas. Karena di atas berarti bisa jadi contoh. Yang kemudian hinggap di kepala anak-anak adalah: tenar berarti sukses, begitu pula sebaliknya.

Itu pun masih ditambahi racun macam ini, “Jadi orang itu jangan tanggung-tanggung. Kalau maling ya maling yang top sekalian, kalau jadi orang baik ya yang budiman/wati hebat.”

chairman's chairUntunglah di dunia ini selalu ada anak optimistis yang ngeyelan: “Kalo mau jadi orang tanggung itu ya yang nanggung sekalian.” Masa sih orang nggak boleh jadi medioker?

Lamunan gombal itu menyinggahi benak ketika saya melihat tumpukan kursi bermerek Chairman di sebuah kedai bakso bernama Mister Baso. Sempat terlintas di otak, “Kenapa bahasa Indonesia memakai kata ‘ketua’ yang berasal dari ‘tua’?”

Tadi saya teringat lagi soal “tua” itu saat pembagian potongan kue ulang tahun. Selalu ada yang bertanya, “Kok gue duluan?” Lagi-lagi jawabannya klise: sesuai usia. Jawaban yang sukai waktu bersekolah adalah “urut bodoh” atau “urut jelek” atau “urut sial” atau “urut jahat”. Entah kenapa kriterium eh kriteria ini sering ditolak, padahal menguntungkan lho — dapat makanan lebih dulu.

Ahad kemarin, di sebuah kedai bakmi jawa, saya mendapati meja juragannya dikasih kayu berukir dengan tulisan “pimpinan” — bukan “pemimpin”. Boleh juga humornya. Sangat pede. 7000 lg ringtone verizon freeown 730 music ringtone nextel downloadingweb ringtone alltel sitephone motorola ringtone 120e2 ringtone em up hit pacfree for v265 ringtones motorola alltelringtone kyocera 1135 free6700 ringtone audiovox Map

Pemilik BlogUmumTENAR, BERHASIL, NGGAK NANGGUNG. Menjadi pemimpin atau pemuka itu bagus. Begitulah yang ditanamkan kepada anak-anak sejak dini. Saya tak tahu, apakah kepemimpinan juga ditanamkan dengan bahasa yang sesuai pemahaman anak-anak. Kesan saya sejak kecil, yang ditanamkan adalah 'menjadi pemimpin itu bagus karena berkuasa, boleh mengarahkan teman-temannya'. Para orangtua juga bangga...Suatu atau sebuah blog?