Mengkritik, mengejek, dan menghina Bowo

Berani nyerang presiden dan wakilnya tapi lemah ngadepin tekanan? Negara kudu melindungi warga dari teror dan persekusi.

▒ Lama baca < 1 menit

Persoalan hukum menghina Prabowo sebagai presiden — Blogombal.com

Jeng Tari Menari tak nyaman dengan aneka meme tentang Bowo. Katanya, “Sejak dulu aku nggak suka dia, terutama setelah dia menculik apalagi setelah jadi presiden. Tapi buatku ada meme yang kelewatan, rasanya sih menghina, nyerang pribadi bahkan fisik. Benci boleh tapi duh kok nyerang sampe segitunya. Menurut Mas Kam piyé?”

Kamso menyahut, “Yah seperti aku bilang, pemerintah dan rakyat sama-sama sakit. Kalo gambar perut gendut yang kurvanya mengisi cekungan vertikal podium, biarpun nggak pake wajah bisa ketahuan ngarah siapa. Itu sih body shaming. Udah kelewatan. Kalo kita ikut nyebarin, bahkan via japri WA, berarti kelewatan juga, Tar. Ada pasal lain yang ngatur itu. Di UU ITE juga ada.”

“Bisa dipidana? Maksudku kritik yang menurutku lebih bersifat menghina?”

“Ahli hukum lebih tahu. Setiap orang berhak nggak terima kalo dihina. Kalo penghinaan dan penyerangan terhadap kehormatan presiden, itu soal Pasal 218 Ayat 1 KUHP baru, eh KUHP Nasional, ancaman hukuman maksimum 3 tahun bui atau denda Rp200 juta, kecuali buat kepentingan umum. Kalo pake Pasal 219 ancaman hukuman paling pol 4 tahun 6 bulan.”

“Nah!”

“Tapi setahuku yang bisa mengadukan itu presiden dan wakilnya secara langsung. Orang lain misalnya, pendukung dan sukarelawan, nggak bisa. Lalu nanti terserah hakim. SBY pernah, sebagai pribadi, bukan presiden. J****i juga pernah.”

“Di satu sisi, dengan presiden dan wakilnya mendiamkan, malah bisa menjadi pesan bahwa mereka demokratis, nggak antikritik. Tapi di sisi lain….”

“Di sisi lain kenapa, Tar?”

“Ya gitu deh. Bukan oleh presiden atau wakilnya si siapa itu, tapi oleh pendukung, orang bayaran….”

“Misalnya aja doxing, fitnah, peretasan, teror via telepon, teror pake banjir paket COD, paket entah apa lagi, persekusi?”

“Mas Kam yang bilang gitu, bukan aku lho. Soalnya aku ngeri.”

“Lha korban kan bisa ngaduin ke polisi, kayak Tempo dulu ngaduin soal kepala babi?”

“Emang kalo bukan Tempo bakal diproses, Mas?”

“Nggak tau, harus ngecek arsip berita.”

“Kalo ngadu entar dibilang baper katro, berani nyerang presiden sama wakilnya tapi lemah ngadepin tekanan. Ya kan, Mas?”

“Lha kan yang bilang bukan polisi yang nyatet laporan warga, tapi pendukung presiden dan wakilnya? Yang pasti setiap warga negara berhak mendapatkan perlindungan dari negara. Itu moral ceritanya.”

“Halah te-o-ri!”

“Nanak nasi aja pake teori, masa sih ngurus negara nggak pake teori?”

Tinggalkan Balasan