
Kertas yang tertempel pada tembok di sudut ruang besar di lantai dasar Pondok Gede Plaza, Kobek, Jabar, ini membuat saya mengalami sesat pikir. Kenapa? Saya langsung membatin, “Kenapa nggak masang kode QR biar cepat?”
Saya membayangkan, setelah memindai kode kotak-kotak maka ponsel pengguna akan digiring ke proses transaksi. Langkah selanjutnya kalau setuju adalah pembayaran secara daring. Tarif mulai Rp2.000. Mudah, bukan? Lha ya bukan.

Untuk membaca kode QR agar terhubung ke sebuah layanan, misalnya melalui laman web, memerlukan koneksi internet. Padahal untuk memanfaatkan koneksi internet membutuhkan akses, dari kouta komunikasi data di ponsel sampai keterhubungam dengan layanan nirkabel. Layanan nirkabel gratis maupun berbayar membutuhkan hotspot. Sumber hotspot antara lain Wi-Fi.

Sambil memotret kertas itu saya mentertawai diri sendiri. Ketika bensin kendaraan habis, harus mengisinya. Untuk pergi ke pengecer atau pom bensin harus mengisikan bensin dulu ke tangki kendaraan. Apakah Anda pernah menggunakan jembatan keledai macam ini ketika menjelaskan sesuatu kepada orang lain?

