Motor sayur diparkir di lorong sempit

Setiap lingkungan hunian adalah sebuah ceruk sosial ekonomi. Terbentuk suatu ekosistem lokal untuk menjaga kehidupan.

▒ Lama baca < 1 menit
¬ Pemandangan lorong dari arah saya masuk.

Waduh, jalannya penuh. Ada sepeda motor sayur parkir di depan. Kalau ada motor lain lewat, ruang lorong dalam labirin takkan cukup. Untung saya jalan kaki karena tak punya motor. Dagangan di samping kanan dan kiri motor itu menjadikan kendaraan itu tambun.

Saya terus berjalan. Ternyata motor sayur diparkir di teras rumah yang menjadi warung sayur. Pemilik motor dan warung itu sama, seorang ibu. Sungguh gigih. Selain berjualan di rumah juga berkeliling. Saya tak tahu siapa yang menggantikan menjaga warung saat si ibu ngider.

Setiap lingkungan hunian adalah sebuah ceruk (niche) sosial ekonomi. Terbentuk suatu ekosistem lokal untuk menjaga kehidupan. Di perkampungan padat juga demikian. Ada warung makan, penatu, penjual pulsa, les mengaji, iuran buang sampah, hingga penjual sayur untuk kebutuhan lokal. Toleransi dan kerja sama menjadi syarat.

Motor sayur diparkir di lorong sempit Kujang — Blogombal.com
¬ Pemandangan lorong setelah saya melewati motor sayur di depan warung.

Maka lingkungan bisa menenggang warung sayur memasang tenda hingga tembok pagar lahan di seberangnya karena tembok itu bukan sisi depan sebuah rumah. Lingkungan juga menenggang setiap kali motor sayur parkir sebentar. Motor lain yang melintas dapat menunggu motor sayur untuk dipepetkan oleh pemiliknya.

Kalau ada motor dari luar tak sabar silakan bersiap untuk cekcok dengan warga lokal. Cuma numpang lewat saja kok rewel. Setiap lingkungan hunian punya aturan main tak tertulis.

Tinggalkan Balasan