Dalam urusan ini saya merasa jadi teman Bowo

Bahwa dia tak merasa sebagai teman saya dalam urusan matematis, itu masalah dia. Dunia ini butuh toleransi. Dalam bidang teknis itu terukur.

▒ Lama baca 2 menit

Dalam urusan matematika saya merasa jadi teman Bowo — Blogombal.com

Malam itu makin berat untuk ukuran seorang anak di awal kelas tiga SD. Saya pusing, bingung, dan putus asa. Bapak kesal dan mati akal. Saya akhirnya menangis. Ibu menenangkan Bapak, “Sudahlah Pak, jangan dipaksa. Setiap anak itu berbeda. Nanti anakmu pada akhirnya juga bisa.”

Saat itu Bapak mengajari berhitung karena nilai saya buruk terus sehingga guru sekolah mengajak bicara Ibu. Lalu di rumah Bapak menjadi guru. Kebetulan Bapak dan Ibu berlatar guru. Ibu dulu guru SD, dan bangga, “Dulu aku yang ngajar putra Pakualam.”

Saya menangis karena penat, tak kunjung dapat menyelesaikan pembagian. Hanya satu yang tangkap dari Bapak, soal bahasa: “Jangan kamu baca satu per lima tapi seperlima.”

Dalam urusan matematika saya merasa jadi teman Bowo — Blogombal.com
¬ Klik: Liputan 6 (30/1/2917)

Kelas enam saya lulus. Tak pernah saya menunggak atau tinggal kelas. Nilai berhitung garis miring matematika adalah 4. Tetapi ada juga nilai 10. Saat saya kelas enam, sekolah dalam transisi menuju SD Laboratorium UKSW Salatiga. Anak-anak kelas tiga ke bawah di sekolah saya sudah menjalani kurikulum baru. Anak sekolah lain belum mengenal matematika.

Guru IPA entah mabuk apa sudah memperkenalkan istilah aneh di kelas: pseudoscience. Duh, Gusti. Namun dari buku entah apa saya merasa menemukan masalah saya: arithmophobia.

Di SMP saya mentok dalam aljabar, tetapi tidak terlalu parah untuk ilmu ukur. Di jurusan IPS SMA saya jeblok dalam hitung dagang dan tata buku. Dalam matematika saya payah, tetapi kadang ada anomali kurva nilai: 2, 8, 3, 9. Bu Guru Matematika curiga saya mengidap masalah psikologis. Namun dari matematika saya jadi tahu tentang kode biner dan toleransi yang diterapkan untuk bidang teknis.

Di SMA pula nilai bahasa Indonesia saya pas-pasan, di mata guru kemampuan berbahasa saya buruk. Tetapi selain mengurusi majalah dinding, saya sudah menulis di buletin luar sekolah, majalah Hai pernah memuat cerpen saya.

Dalam urusan matematika saya merasa jadi teman Bowo — Blogombal.com
¬ Klik: BBC Indonesia (24/10/2024)

Saat berkuliah, untuk statistika saya beroleh D, padahal rentang nilai bukan, katakanlah, G hingga A karena bukan paranada dalam notasi musikal. Padahal lagi mata kuliah ini boleh menggunakan kalkulator.

Tetapi dari dua jenis kalkulator saya beroleh pencerahan. Kalkulator ala warung menghasilkan 2 + 3 × 4 adalah 20. Tetapi Casio Scientific menghasilkan 14 karena operasi penghitungan berdasarkan pipalanda (ping, para, lan, suda — kali, bagi, tambah, kurang). Perintah tombol 2 + 3 × 4 dibaca 2 + (3 × 4) = 14.

¬ Tidak bisa matematika suka infografik — Blogombal.com
¬ Klik: Tidak bisa matematika suka infografik.

Saat bekerja, pada dasawarsa penutup abad lalu, saya punya kalkulator tipis Citizen seukuran kartu kredit, berfaedah saat berdinas luar kota: mencatat biaya harian secara on progres, berikut lampiran yang saya klip.

Saat bekerja, dan sebelumnya, saya lebih mudah memahami angka, terutama perbandingan, jika tampil secara visual. Itulah sebabnya saya dulu saban hari melihat infografik di koran USA Today. Di kemudian hari, sebelum ada akal imitasi, dalam pekerjaan jurnalistik saya tak hanya meriset dan menulis tetapi juga membuat infografik. Saya berpengandaian banyak orang tak suka angka.

Ini saya bicara apa secara linier? Kemampuan matematis saya seperti Prabowo Subianto; setidaknya jika saya merujuk pengakuannya sebelum menjadi presiden. Belakangan kian ramai meme soal matematika ala Bowo.

View this post on Instagram

Akan tetapi terhadap meme versi ini, yang meledek pidato Bowo soal pembangunan jalan desa sepanjang 1.150 km, tak hanya di Madura, Jatim, tetapi juga tempat lain secara nasional, saya tak sepenuhnya menelan karena ada hal yang belum jelas. Biaya Rp5,41 triliun (¬ Setkab, 23/6/2026), dalam asumsi sementara saya juga menyangkut harga bahan dan biaya lain di daerah tertentu, dan kalau ada mungkin biaya pembebasan tanah. Apakah biaya tersebut layak, dan adakah potensi korupsi, itu urusan auditor.

Apakah Bowo, yang dalam soal lain bisa bertamsil jika menteri minta anggaran Rp5 triliun malah akan dia beri Rp10 triliun, adalah bukti kelemahan matematis? Bagi saya tidak. Ini soal akal sehat. Pemilik warteg sampai konglomerat teratas versi Forbes tak berpikir semudah itu dalam berbisnis. Ya, berbisnis; bukan dalam konsumsi.

Dalam urusan matematika saya merasa jadi teman Bowo — Blogombal.com
¬ Klik: JPNN (8/9/2012)

Kembali ke masalah saya. Hingga kini saya kesulitan membaca angka berdigit lebih dari lima tanpa separator. Mengingat angka saya juga sulit, tetapi saya hafal nomor ponsel yang saya pakai sejak 1997. Mengingat PIN juga sulit bagi saya.

Menurut kabar, Bowo tak memegang ponsel. Konten medsos dia ketahui dari tablet, mungkin hasil kurasi oleh staf. Jangan-jangan ada soal lain dalam keengganan berponsel, yang bukan tersebab ada ajudan dan lainnya, tetapi soal mengingat angka.

Akhirulkalam, walakin dalam tajuk saya menyebut merasa jadi teman Bowo, apakah berarti saya dulu memilih dia? Anda tahu jawabannya.

3 Comments

mpokb Selasa 30 Juni 2026 ~ 11.22 Reply

Kelebihan dan kekurangan tiap orang berbeda-beda. Rupanya keponakan saya juga seperti Bang Paman, langsung pilek kalau belajar matematika.

Btw dulu teman saya suka bercanda ngenyek, kekurangan si A cuma satu, yaitu nggak ada kelebihannya. Jangan bilang gitu soal Wowo ya, Bang Paman

Pemilik Blog Selasa 30 Juni 2026 ~ 12.58 Reply

1. Dulu di ruang kerja saya ada Poster vertikal jangkung bergaya pop art, saya pakai sarung, dengan tulisan satu-satunya kekurangan saya adalah tidak punya kelebihan. Itu poster hasil tiling untuk ngetes printer laser yang dipinjamkan oleh produsen untuk direviu

2. Suatu hari karena mentok, Bu Guru Tata Buku minta saya yang selalu dapat nilai 4 maju menyelesaikan soal karena anak sekelas tidak bisa.

Di papan tulis bisa saya kerjakan dengan benar. Bu Guru heran lalu marah karena menganggap saya selama ini semaunya sendiri. Sebelumnya dia kesal karena waktu tanya kenapa saya bisa mengerjakan santai di papan tulis, saya jawab, “Pakai logika, Bu.”

Bu Guru wakil kepsek itu teman ibu saya. Kira-kira ada masalah apa dengan saya kok nilai tak stabil dan suka minta izin pulang dengan alasan sakit. Tentu saya pulang ke rumah dan ibu saya tahu.

Tinggalkan Balasan