
Toko yang merupakan gerai (outlet) bubur Procil ini baru. Belum ada sebulan. Namun saya menyadari kehadirannya yang bersosok serupa rumah-rumahan di area bermain ini justru setelah berjalan di sisi kanan jalan, artinya di seberang toko.
Jika merujuk foto, rute saya adalah dari arah bagian kiri gambar. Ya, seperti seorang perempuan yang tampak sedang melintas itu. Di sebelah kanan toko adalah kios penjual cempedak goreng. Saya sudah lama tahu.
Lalu kenapa saya sampai telat menyadari kehadiran toko baru itu? Mungkin karena malam sehingga sosok si toko dengan tata lampunya lebih kentara. Kadang ada toko atau rumah tinggal yang lebih mencolok, seperti menyebal dari lingkungan sekitar, justru pada malam hari.
Penyebab lain, sudah saya sebutkan, karena saya berjalan di sisi kanan jalan kecil yang tanpa trotoar namun lalu lintasnya ramai. Berjalan di sisi yang jarang saya tempuh membuat tebar pandang saya lebih luas ke arah seberang. Kenapa? Berjalan di sana tak leluasa menoleh karena harus berhati-hati agar tak tersandung brenjulan beton maupun terperosok celah antar-tutup got.
Di sebuah kompleks ruko saya pernah sempat kesulitan menemukan sebuah KCP bank. Kenapa? Papan nama bank ada di bagian atas fasad, sementara di teras ruko identitas visual bank tersebut kurang kentara.
Di rumah, akhirnya saya memasang nomor tambahan pada pintu pagar supaya lebih terlihat oleh kurir, tukang ojek, dan sopir taksi. Nomor yang sudah ada terlalu tinggi bagi mereka, terutama pengemudi sedan, karena tidak berada batas jangkauan pandang mata.
Itu kesalahan saya, di jalan sempit kompleks mestinya setiap orang dapat melihat nomor rumah tanpa mendongak, terutama bagi mereka yang naik sepeda motor dan terlebih mobil. Nomor tidak harus berposisi sejajar mata (eye level) tetapi cukup menggerakkan bola mata sedikit ke atas akan melihat nomor rumah.
Kalau di jalan lebar sih bukan masalah. Makin jauh objek maka mata lebih melihat. Di jalan sempit tidak demikian, apalagi bagi pengendara.
