
Tulisan pada poster, di halaman toko yang sudah mepet jalan, ini menarik karena dua hal. Pertama: istilah promo telur. Kedua: harga Rp24.500 per kilogram. Harga di tempat lain Rp26.000 ke atas. Saya melihatnya di dekat Pasar Kecapi, Jatiwarna, Pondokmelati, Kobek, Jabar, tadi malam saat berjalan kaki.
Promo telur. Bukan harga promo. Tak soal. Yang penting semua orang paham. Soal telur, tanpa tambahan ayam, semua orang paham itu bukan telur angsa. Ya, serupa di pasar dan pergaulan orang cukup menyebut daging, pasti daging sapi. Bukan daging kambing apalagi daging babi.

Soal harga telur, kalau sekarang belum ada ayam petelur akan seberapa mahal harganya? Jangankan untuk bikin kue, untuk membuat dadar pun mewah. Saya belum tahu apakah ada resep bikin kue menggunakan telur puyuh, apalagi untuk memecahkan rekor kue tertinggi atau terbesar.

Apakah saya membeli telur promo itu? Tidak. Membawa telur dalam tas keresek padahal jalan kaki jauh itu repot, harus membopong. Saya pernah membeli telur naik sepeda dan hal itu lebih merepotkan. Pernah setelah membayar telur saya memulangkan sepeda dulu ke rumah, lalu kembali ke warung, jalan kaki, mengambil telur. Membeli telur eceran itu tak diberi wadah untuk dudukan.
Saya pernah punya kotak dudukan telur yang bisa ditenteng vertikal, namun merepotkan untuk dipakai belanja, telur sekilogram belum tentu masuk semua. Apalagi telurnya ada yang keterlaluan kotornya.


5 Comments
Tadi saya beli 10 butir Rp24.500.. Agak kemahalan untuk pasaran sekarang, tapi berhubung belanja daring jadi hemat ongkos hehe.
Kapan itu ada berita, telur dibagikan gratis oleh peternak di Jember, saking murahnya, Bang Paman..
Begitulah soal telur. Peternak gak bisa apa-apa karena bibit ayam dan pakan dikuasai jalur tertentu. Malah dulu ada yang jual bibit ayam, bikin pakan, dan punya jaringan ayam goreng. Pegang hulu sampai hilir.
baru ngeh, ga tau harga telor skarang, wah padahal jualan jg di warung
Saya belum cek ke nyonya juragan, berapa harga terkini kulak telur untuk kedainya. Beberapa hari lalu, di sebuah gang rute saya jalan kaki tarkam, saya lihat spanduk kecil di sebuah rumah bertulisan “jual telur putih fresh dari kandang sendiri Rp 22.000”. Ketika saya sampaikan ke nyonya juragan, dia tidak mengomentari harga tapi jenis telurnya: endhog putih ora cocok nggo warung (maksudnya kedai kami).
BTW bicara soal harga telur, saya jadi ingat tayangan video Pak Endhas ngomon-omon tentang menu endhog ceplok!
Harga telur itu fluktiatif. Pas awal pandemi dulu tinggi. Selagi belanja di warung mendadak saya diajak group call video oleh eks sejawat. Saya bilang lagi beli telur.
Lantas seorang emak nanya harga telur di situ berapa. Saya bilang, “Udah turun, hari ini Rp29.000. Minggu lalu Rp31. 000.”
Yang nanya itu eks wartawan istana yang kena PHK.