Video tahun lalu tentang ejekan Bowo terhadap FGD itu kini muncul lagi di media sosial. Setahu saya, tolong Anda koreksi jika saya salah, F dalam FGD adalah focus, bukan forum, sehingga nama lengkapnya adalah focus group discussion. Kadang ada yang menyingkatnya focus group.
FGD dilakukan untuk mendapatkan data kualitatif. Dunia pemasaran dalam bisnis sering melakukannya dengan mempertemukan sejumlah orang yang sesuai kriteria untuk misalnya membahas produk yang mereka inginkan.
Bisnis media juga melakukannya, dengan mengumpulkan pembaca, lalu dalam forum lain mengumpulkan pengiklan serta agensi periklanan. Pada awal 2000-an, sebagai pembaca dan pelanggan Koran Tempo saya diundang ikut FGD di Gedung Jaya, Jalan Thamrin, Jakpus, diawali dengan makan malam.
Penyelenggara acara menelepon saya ingin dijemput dari Kebonjeruk, Jakbar, atau tidak. Saya memilih berangkat sendiri. Sampai di tujuan saya hampir ditolak karena kartu nama saya saat itu menyebutkan saya sebagai redaktur pelaksana portal yang menggawangi sejumlah situs majalah.
Mereka bilang, sesama orang media tidak bisa. Saya sih bersikap terserah tuan rumah saja. Saya tak mendaftarkan diri, dan undangan berbasis alamat rumah pelanggan dari agen. Setelah mereka berembuk di depan saya akhirnya saya diterima karena media saya daring, bukan cetak. Setelah tak bekerja di dunia penerbitan, dan hiatus sebagai bloger, saya beberapa kali menulis di Koran Tempo. Atribut saya: bekas blogger.
FGD lain yang saya ikuti, sebagai bloger, dulu dua kali dari produsen ponsel yang sama. Yang pertama di sebuah kantor yang mirip rumah di Jaksel, yang kedua di tempat eksklusif di Pacific Place, bukan resto namun katering dan pramusajinya berkelas fine dining, ada wine segala.
Kedua acara itu menerapkan syarat tidak boleh memotret, dilarang memublikasikan, semuanya diatur dalam sekian lembar dokumen berbahasa Inggris, harus saya tanda tangani. Kenapa begitu antara lain karena menyangkut produk yang belum diluncurkan.
Ketika saya masih mengurusi suatu majalah cetak, juga awal 2000-an, manajemen menyelenggarakan FGD di Hotel Nikko Jakarta (pengganti President Hotel), sebelum menjadi Hotel Pullman. Tentu saat itu saya tidak bercelana pendek. Saya berpantalon halus, kemeja rapi, dan berdasi karena harus tampil di depan para peserta dari kalangan bisnis komputer yang juga berbusana rapi.
Lalu apakah FGD bermanfaat? Sejauh saya alami berfaedah, karena FGD memberikan banyak masukan yang dalam survei tertulis belum tentu terendus. Kalau menurut Bowo FGD dan seminar itu unfaedah, ya terserah. Suka-suka juraganlah.
Akan tetapi kita juga harus terbuka, ada saja seminar yang cuma menjadi acara berkumpul dan mendengarkan ceramah dan presentasi, namun tak jelas manfaatnya, anehnya acara tersebut memberikan sertifikat.
Beberapa orang kantoran ada yang suka seminar macam itu karena punya kesempatan untuk tidak masuk kerja, dibiayai kantor, bersua kenalan baru, dan makan yang lebih enak daripada kantin di tempat kerja. Sertifikat dilaporkan kepada atasan.
Tak apa, dari sejumlah acara pertemuan dan diskusi ada yang namanya simposium. Bahasa Inggris dan bahasa Barat lainnya, yang menyebut symposium, menyerapnya dari bahasa Yunani, symposion. Kata itu adalah gabungan syn- yang berarti bersama-sama, dan pinein dengan imbuhan sion yang berarti minum anggur. Kemudian simposium berarti makan minum sambil mengobrol.
Kalau acaranya cuma disebut kopdar — istilah ini, copy darat, dari pehobi radio komunikasi awal 1980-an, atau malah sebelumnya — dan bukan simposium, tentu kurang keren. “Halah, cuma ngopi kalcer dan ngemil di tempat estetik kok pake surtipikat,” mungkin ada komentar demikian.


One Comment
Saya tahunya juga focus, Bang Paman. Tapi khusus doi bebas dah, wong 10+6=17 aja boleh kok 😏