
Tadi siang, untuk melongok apakah jejalan mobil yang diparkir di pelataran sudah mulai tersibak, saya naik ke pagar beton rendah yang membentengi dua batang pohon berimpit. Ternyata satu batang cempedak (Artocarpus integer) sudah ditebang, diameternya satu setengah jengkal. Selama ini saya tak memperhatikan. Saya mengira hanya ada sebatang.
Bagi saya menebang pohon itu suatu seni. Waktu masih bocah, kadang sepulang sekolah saya tiba di rumah lebih siang karena dalam perjalanan menonton orang menebang pohon. Di luar jam sekolah, atau saat libur, saya juga menonton penebangan pohon.
Saya merasa beroleh hiburan besar saat orangtua saya menugasi belandong, juru tebang, namanya Pak Ambyah (nama Jawa untuk Hamzah), untuk menebang pohon rambutan di sebelah rumah.

Pohon rambutan acé (Aceh?) tua tinggi besar, yang melebihi tinggi pucuk rumah gedong ala kolonial, itu membuat rumah agak lembap.
Saya tak hanya menonton bagaimana tim kecil menebang, tetapi juga saat mereka menggergaji batang, membelahnya menjadi papan, dengan dibujurkan di atas panggung bambu, satu orang di atas dan satu orang di bawah.
Proses menebang hingga membersihkan halaman butuh waktu seminggu lebih. Mereka membawa rantang berisi makan siang sederhana. Kayu untuk mereka.

¬ Ihwal gergaji come to you come to me, klik gambar untuk membaca arsip.
Setelah dewasa, saya tak menganggap penebangan pohon sebagai tontonan. Apalagi setelah mesin gergaji rantai menjadi kelaziman. Tak seperti dulu, belandong selalu mengandalkan kapak dengan beragam model. Gergaji potong maupun belah pun dulu hanya model come to you come to me.
Akan tetapi kalau ada video singkat di X, tentang orang menebang pohon, kadang saya tonton, apalagi yang akrobatik. Ada juga yang lucu karena merupakan kecelakaan, namun orangnya selamat, malah tertawa.
Hmmm… ada istilah tebang pilih. Biasanya bukan untuk pohon melainkan dalam penegakan hukum yang tak adil, terutama dalam memberantas korupsi. Namun setahu saya tak ada salah tebang maupun tebang ngasal.
Menurut saya, semua penebangan pohon adalah tebang pilih. Ada yang benar dari sisi aturan dan pelaksanaan, termasuk tak merugikan pohon lain, bangunan, mobil, serta manusia, dan ada pula yang ilegal. Ada pula penebangan ilegal. Anehnya, penyebab Banjir Sumatra 2025 bukan cuma pembalakan liar.
Penebangan legal pun tentu harus sesuai akal sehat dan kelestarian lingkungan. Dalam Pesta Babi saya lihat adegan pencabutan pohon di hutan Papua Selatan menggunakan alat berat, atas nama Proyek Strategis Nasional.
Dua ribu ekskavator dan sebangsanya dikirim ke sana untuk menggunduli 2,5 juta hektare Hutan, pemghilangan hutan terbesar di dunia. Tanpa peduli ada masyarakat adat di dalamnya beserta ekosistem untuk mempertahankan kehidupan.
Kalau disebut ngawur, itu pun terlalu lunak. Lalu apa dong?
¬ Video di atas bukan di Papua, hanya merupakan contoh penggunaan teknologi maju untuk menebang pohon di hutan


4 Comments
Kalau menurut Bowo bin Mitro dan para anak buahnya, ngawur terlalu keras. Mereka akan balik bilang Pamanlah yang ngawur.
Hidup Jokowi eh hidup Bowo!
Saya dari dulu memang ngawur, kan? Tapi saya kan bukan pemimpin.
BTW saya menghormati Pak Cum. Pada masa besannya berkuasa, dia sudah mengkritik 30% dana pembangunan dikorupsi. Pak Cum juga bersuara saat DSR Indonesia dia atas 20. Artinya, dari 100 USD pendapatan ekspor, yang 23 atau berapalah buat bayar utang.
Lha anake Pak Cum sekarang malah gitu.
Sepertigapuludué begawan, dalam humor Seno Gumira di Ihik3.