
Kemarin siang, pas Iduladha, dari rumah terdengar berulang kali seruan melalui lospeker masjid agar para orangtua mengawasi anak-anaknya agar tak mendekati area pemotongan hewan kurban. Seruan ini bijak, karena tak setiap anak tahan melihat penyembelihan hewan.
Saya hingga dewasa tak berani melihat penyembelihan. Memotong ikan hidup pun tidak berani. Demikian pula menyembelih ayam. Menjebak tikus dengan penjepit bergerigi maupun lem pun saya tak tega, sehingga lebih memilih tabung untuk menangkap hidup lalu tikusnya saya lepaskan di luar rumah.
Islam melarang manusia menyiksa binatang sebagai bentuk penghormatan terhadap Kehidupan. Maka untuk jagal kurban Iduladha ada panduannya agar binatang sembelihan tak tersiksa, langsung mati. Demikian pula dalam menyembelih hewan apa pun dan kapan pun. Semuanya diawali dengan doa. Ada adab untuk menyembelih.
Laporan Kompas tentang kurban Iduladha (Kamis, 28/5/2026) membahas perilaku sapi. Laporan itu antara lain mengutip Supratikno, pakar anatomi dan dosen Divisi Anatomi Histologi dan Embriologi Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Bogor, Jabar.
Beberapa poin dari Pak Dosen:
- Sapi adalah hewan yang memiliki modalitas sensorik. Mereka memiliki cara mengolah informasi dari lingkungannya dengan inderanya
- Sebagai hewan sosial, sapi akan gelisah dan sedih jika dipisahkan dari anak atau temannya. Sapi akan takut jika diisolasi sendirian
- Mata sapi memiliki pandangan luas, tetapi tidak fokus. Dia hanya melihat bayangan dan gerakan benda saja, bukan wujud yang jelas seperti pandangan manusia. Maka ketika sapi melihat gerak bayangan orang berlalu lalang, apalagi dengan gerak cepat dan terus-menerus, akan mereka anggap sebagai sinyal bahaya, hal ini membuat stres
- Sapi akan takut jika melihat temannya disembelih, dikuliti, atau dipotong-potong tubuhnya sehingga area penyembelihan dan pengolahan daging kurban harus tertutup atau tidak bisa dilihat hewan lain
- Sapi juga akan ketakutan jika melihat orang yang pernah menyiksanya karena dia punya memori terhadap perlakuan orang yang pernah menanganinya
- Meski mata sapi bersifat dikromatik (buta warna), dia bisa membedakan warna yang memiliki gelombang panjang yang membuatnya tidak nyaman, misalnya warna merah dan oranye. Masalahnya, banyak sapi ditempatkan di lokasi penampungan yang dinaungi terpal jingga
- Hidung sapi memiliki penciuman lebih tajam daripada binatang lain. Sapi bisa mencium aroma darah dari hewan lain yang disembelih. Sapi juga bisa mencium aroma stres dari hewan lain yang diperlakukan kasar
- Bahkan, sapi mampu mendeteksi orang atau pekerja di sekitarnya yang ketakutan terhadap sapi
“Makanya, kalau mau menangani sapi, kalau takut jangan berani-berani dan kalau berani jangan takut-takut supaya hormon stres manusia tidak terdeteksi oleh sapi,” kata Supratikno.
Dalam laporan sebelumnya, untuk menyambut Iduladha, Kompas mengingatkan kesejahteraan hewan kurban (20/5/2026).

Laporan tersebut mengutip Panjono, guru besar produksi ternak potong, Fakultas Peternakan, UGM, Yogyakarta. “Stres dan sakit yang dirasakan hewan akibat perlakuan manusia yang tidak memerhatikan kesejahteraan hewan akan merusak atau menurunkan kualitas dagingnya,” katanya.
Menurut Panjono:
- Saat tertekan, stres, dan panik, gairah binatang akan turun, mereka mudah lelah, dan daya tahan tubuhnya berkurang
- Kondisi itu akan memunculkan timbunan asam laktat di otot hewan, terutama otot paha, betis, dan tengkuk. Asam laktat itulah yang membuat daging hewan terasa kecut dan kurang enak
- Stres juga membuat jantung hewan tidak bisa memompa darah dengan baik. Akibatnya, saat disembelih, banyak darah tertinggal di daging hewan
- Darah yang tertinggal merupakan media terbaik berkembangnya bakteri pembusuk dan kuman yang jumlahnya bisa berlipat ganda dalam beberapa menit
- Bakteri itu akan membuat mutu daging turun dan cepat membusuk
Tentu semua pedagang di pasar hewan, peternak, dan para jagal paham hal itu. Bagaimana dengan pedagang hewan musiman?

Nayla (20), salah seorang pramuniaga di Mall Hewan Qurban Haji Doni, Cimanggis, Depok, Jabar, mengatakan, “Sebetulnya tidak berbeda seperti menjadi pramuniaga showroom mobil, sih.”
Maksudnya, dagangan diperlakukan dengan baik agar mutunya terjaga. Pramuniaga dilatih memahami sapi dan cara merawatnya.

Haji Doni, dalam laporan foto Kompas (16/5/2026), menuturkan bahwa ruang pamer mobil bekasnya difungsikan untuk bursa sapi kurban sejak 2004. Seminggu setelah Iduladha, selama seminggu bekas pasar sapi kembali dibenahi untuk kembali menjadi showroom.
Selama toko mobil menjadi toko sapi, pramuniaga berdandan ala pramugari Qatar Airways. Tujuannya, agar pelanggan dari Timur Tengah bisa nyaman saat melihat sapi-sapi yang dijualnya.

Apakah para sapi nyaman dengan tampilan pramuniaga tak dilaporkan. Andina (23), salah satu pramuniaga, rutin menyemprotkan parfum ke pakaian dan badannya saat istirahat, agar terbebas dari bau kandang. Namun usahanya tidak banyak berpengaruh.
“Masih kalah sama bau sapi, sih. Makanya, sebelum pulang wajib mandi dulu di sini, biar nanti ke rumah enggak bau sapi,” ujar Andina.
Mooooohhhh….
