
Soal nilai rupiah melemah terhadap dolar Amrik, dan merosotnya daya beli, menjadi topik harian di mana-mana. Dalam bahasa yang semanak: dolar Amrik menguat. Positif di sono, negatif dimari.
Apakah semester depan nanti 1 USD akan jadi Rp22.000 – Rp25.000? Saya bukan ahli ekonomi. Tidak tahu. Yang saya ketahui cuma menurut KBBI yang baku adalah dolar, bukan dollar.
Kata Timothy Ronald dalam kanalnya di YouTube (18/5/2026), saat Indonesia merdeka 1 USD adalah Rp3,80. Saat ini 1 USD adalah Rp17.650. Dia simpulkan, “[…] nilai daya beli uang kita sebenarnya sudah lenyap 99,9978 (persen)” — lihat menit ke-18.45.
Walah, nilai rupiah sekarang dibandingkan dahulu kala tinggal 0,0022 persen. Apakah ini berarti duit yang dalam nilai dahulu Rp1 juta kini nilainya cuma Rp22? Koin rupiah tak ada yang senilai itu. Tolong Anda koreksi kalau tafsiran dan taksiran saya salah.
Saya ini orang setengah desa setengah kota dari sisi gaya hidup. Yang macam apa itu? Saya cuma asal omong. Hanya mengarang. Bukankah setiap warga negara boleh asal ngoceh meniru pemimpin?
“Kalau ingin menghancurkan suatu negara, hancurkanlah mata uangnya” (Lenin, Prabowo)
Tolong beritahu Presiden RI 2024-2029 bahwa dolar sekarang sudah 17.600. Presiden ngerti gak tuh?#PresidenLinglungRakyatBingung #PresidenLinglungRakyatBingung pic.twitter.com/3ihepO1LJY
— Artanabil (@ArtaN7707) May 18, 2026
Secara administratif, mayoritas wilayah di kabupaten itu bernama desa, bukan kelurahan. Orang keren makmur yang tinggal di sana sebenarnya pantas disebut orang desa. Masalahnya saya bukan termasuk kelompok ekonomi kuat nan bergaya kosmopolitan, padahal saya warga suatu kelurahan di Kobek.

Soal orang desa hanya berurusan dengan rupiah, sudah banyak orang bikin konten, menanggapi seorang pemimpin. Ada yang berisi kemarahan dengan umpatan, dilontarkan seorang ibu muda. Mungkin dia warga suatu desa. Saya tak perlu membagikannya di sini.
Apakah saya berurusan dengan dolar secara langsung? Tidak. Punya pecahan terkecil dolar dan valas lainnya pun tidak. Seorang teman saya menggunakan uang kertas kecil valas untuk pembatas halaman buku karena tahu banknotes yang itu sulit ditukarkan ke rupiah, apalagi cuma selembar. Mungkin dia lupa menghabiskan uang kecil itu di duty free shops bandara luar negeri.
Memang sih saya suka tempe dan tahu, yang berbahan kedelai impor, tetapi kedua makanan itu saya bayar dalam rupiah. Tentu saya tak perlu berbangga diri sebagai orang Indonesia suka makanan lokal, karena tahu bermula dari Tiongkok.
Saya juga suka kue dolar, apalagi ada wijennya. Dulu semasa bocah, saya mengikuti cara orang Jawa, pernah menyebutnya roti dolar. Tentu terigu untuk membuatnya dari gandum impor. Tetapi orangtua saya membayar kue dolar dengan rupiah.
Ingat dolar ingat Pasar Baru, Jakarta. Dulu ada dua macam dolar di sana. Pertama, penjual kue dolar yang dapurnya juga di sana. Rasanya enak. Kedua, ada saja pria yang melayani penukaran dolar dengan berdiri di pinggir pedestrian. “Dolar, dolar…,” kata mereka. Sayang bahasa Inggris, setahu saya, tak mengenal istilah stand-up money changer.

Sebenarnya di rumah saya pernah akrab dengan dolar. Bukan uang melainkan tanaman. Tetapi untuk dolar rambat, saya tidak pernah. Saya tak tahu apakah orang desa, dalam arti bukan warga kelurahan, juga berurusan dengan kedua jenis tanaman itu.
Sekira lima kilometer dari rumah saya ada jalan bernama Rawa Dolar. Sejauh saya tahu tak ada money changer di sana. Namun saya yakin warga di sana setiap hari bertransaksi dengan rupiah. Itu bagus, bersesuai dengan UU Tahun 2011 tentang Mata Uang dan Peraturan Bank Indonesia No. 17/3/PBI/2015 Tahun 2015.
—
Dalam kemelut ekonomi saat ini saya lihat dan rasakan komunikasi pemerintah buruk. Optimisme itu baik, karena kalau pemerintah pesimistis, rakyat dan dunia usaha makin bingung. Tetapi menggampangkan masalah, apalagi disusul keterangan itu semua hanya bergurau, sungguh tak elok. Jauh dari kepatutan.
Kata presiden, selama Menkeu Purbaya masih bisa tersenyum, masyarakat tenang saja. Tetapi di media sosial, ibu-ibu penjual di pasar marah-marah. Kalau ditambahkan selama Kepala BGN Dadan Hindayana tersenyum dst…, makin banyak orang yang gusar membanting helm.
Tak selamanya senyuman seseorang mudah menular. Padahal senyuman konon merupakan pancaran energi positif.
Untunglah ada saja orang yang mencoba menyalurkan kekesalan dengan humor. Selalu ada parodi untuk menghibur diri dan orang lain.

One Comment
Dalam kemelut ekonomi saat ini saya lihat dan rasakan komunikasi pemerintah buruk.
Betul, Paman. Pilihan kata mereka perlu diperiksa ulang dan tidak salah untuk menerima kritik.