
Tadi siang pukul sebelas — eh, sebelum pukul 12 apakah bisa disebut pagi¹? — saya mengganti baterai alat pengukur tensi karena benar-benar sudah habis menurut indikator pada layar.
Yakin, setrum baterai sudah habis? Saya percaya saja, karena setelah menukar posisi baterai tak ada hasil.
Mengapa saya percaya tanpa mengukur daya? Apa yang saya capai hari ini, mau tak mau harus mengganti baterai, adalah hasil maksimal perjuangan memperpanjang usia baterai selama 60 hari.

Akan tetapi sebaiknya Anda skeptis, apa yang saya lakukan dan buktikan mungkin hanya kebetulan. Tidak ilmiah. Lagi pula saya baru sekarang melakukan penukaran posisi baterai entah sampai berapa kali. Inti cerita: pada 14 Maret lalu alat pengukur tensi mati saat pengukuran belum usai. Lalu saya matikan alat, dan menghidupkan lagi, muncul ikon baterai habis.
Dalam ponsel, yang terhubung dengan pengukur melalui Bluetooth, beberapa hari sebelumnya sudah muncul pengingat agar saya mengganti baterai. Alat ini bisa terhubung ke ponsel dua pengguna, untuk menyimpan data saya dan istri saya. Hasilnya berupa PDF, bisa dicetak.
Saat itu meskipun ada perintah mengganti baterai, saya tetap nekat. Lalu setelah tensimeter ngambek, muncul keisengan saya: menukarkan posisi setiap baterai AA yang keseluruhannya berjumlah empat buah.

Alat bisa bekerja lagi. Setiap kali dia berhenti saat bekerja, atau langsung mati setelah saya nyalakan, maka saya tukar posisi baterai. Alhasil saya berhasil mengulur usia empat baterai selama 60 hari.
Maret lalu saat baterai ngedrop, dan untuk pertama kali alat yang saya pakai mulai pertengahan Januari itu ngadat, saya mengukur daya baterai dengan alat sederhana. Saya tak tahu akurasinya.

Mestinya saya pakai multitester, namun tak saya punyai, dan lebih wagu lagi saya belum pernah menggunakan kecuali saat remaja untuk iseng.
Saat mengukur daya baterai, saya teringat VU meter audio yang kini dihidupkan lagi oleh chi-fi (China Hi-Fi). Jarum bergerak seperti menghadirkan sensasi visual.

Tetapi intuk pengukur tensi, saya lebih suka yang digital, bukan analog dengan air raksa naik lalu turun, mana harus pakai steteskop pula seperti ibu saya dulu. Peraga analog punya kelemahan, justru pada yang melihat, yakni kesalahan paralaks.
¹) Bahasa Indonesia tak punya AM dan PM, karena kita memakai pukul 00.00–24.00, tetapi menurut KBBI, siang adalah “waktu antara pagi dengan petang (kira-kira pukul 11.00–14.00)”. Sedangkan pagi adalah “waktu setelah matahari terbit hingga menjelang siang hari” .
