
Kebetulan setelah membaca cuitan di X, tentang kebersihan “piring anyaman rotan”, saya diajak anak saya ke warung soto. Kesan saya sih piring tiruan anyaman lidi, dari plastik, itu bersih. Kertas cokelat untuk alas juga ditumpuk terpisah.

Saya tak tahu pasti sejak kapan piring anyaman lidi disukai karena eksotis. Apakah sejak akhir 1990-an, dimulai dari kedai maupun rumah tangga saat menjamu tamu? Kini dalam acara RT pun piring anyaman lidi asli maupun tiruan laku, antara lain karena lebih ringan.
Setelah piring anyaman lidi asli makin populer, muncullah piring sejenis dengan bahan tiruan, yakni plastik, namun tak dianyam melainkan hasil pencetakan oleh mesin. Piring imitasi dari plastik lebih awet, setelah dicuci mudah dikeringkan.

Membayangkan piring anyaman tak dicuci setelah ditimpa sambal, tulang ikan dan ayam, tusuk sate, serta tisu penyeka ingus kepedasan, memang mengerikan. Apalagi kalau di dapur piring anyaman itu diletakkan di atas lantai kotor, lalu pantat piring ditumpuk di atas piring lainnya yang sudah diberi kertas alas makanan.
Semoga video ini jadi pertimbangan temen temen yg suka make piring ini.
Pelopor piring rotan itu orang2 yg males nyuci piring dan diikuti sama orang2 yg males nyuci piring juga, atau klo di hajatan tuan hajat nggak mau rugi kena biaya tambahan, buat tukang cuci piringnya.
Dulu… pic.twitter.com/Pl1wnhCEAY
— kale (@kalistohenituse) May 9, 2026

One Comment
Walah, kok pas banget ya.. Di tanggal yang sama dengan postingan ini, yakni beberapa jam yang lalu, saya ngopi di salah satu kafe di Kyoto. Saya membeli croissant yang kemudian disajikan dengan piring anyaman. Terlintas pertanyaan di pikiran saya, apakah piring anyaman semacam ini akan memerlukan waktu yang lebih lama untuk membersihkannya ketimbang piring biasa. Saya membaca tulisan ini sambil tersenyum karena ‘kebetulan’ ini.