
James Freddy Sundah adalah “Lilin-Lilin Kecil” (LLK) dan begitu pula sebaliknya. Ya lagunya, ya liriknya. Soal lirik LLK, banyak yang menyebut James mengungkapkan kepengapan kehidupan sosial politik Indonesia pada masa Orde Baru.
Namun bagi saya ada warisan dari James (1 Desember 1955 – 7 Mei 2026), selain LLK. Bukan berupa komposisi lagu melainkan lirik, yakni “Jurang Pemisah” (JP) dan “Jeritan Seberang” (JS). Komposisi JP oleh Yockie, lirik oleh James.
JP, dalam album Jurang Pemisah (1977), menurut saya bagus. Album itu terbit setelah LCLR Prambors 1977, namun sebelum Badai Pasti Berlalu. Album Jurang Pemisah diterbitkan oleh Pramaqua, kongsi Prambors dan Aquarius Musikindo.
Album tersebut, terutama lagu JP, dikemas dalam art rock. Kibornya dominan, menjadi simfonik. Musisi yang terlibat adalah Yockie Suryo Prayogo (piano, kibor, penata musik; ejaan namanya berubah-ubah), Chrisye (bas, vokal), Ian Antono (gitar), dan Teddy Sujaya (drum). Versi baru, berupa rekaman cover secara live, juga bagus.
Saya rasa bukan hanya saya yang bilang lagu JP itu bagus. Namun nyatanya, pada zamannya, lagu itu tak diputar di stasiun radio. Padahal pihak label membagikan piringan hitam ke banyak stasiun.
Menurut pengamat musik Indonesia, almarhum Denny Sakrie, yang mendapatkan vinyl bekas Jurang Pemisah eks sebuah stasiun radio di Jaksel, pada 2009, di lapak loak, dalam tulisan “My Vinyl Fantasy” (2013) di blognya:
Setelah saya periksa, ternyata vinyl ini masih perawan alias belum pernah tersentuh jarum turntable. Benar benar seperti mendapat durian runtuh.
Dalam tulisan lain, Denny mengutip Johannes “Ooq” Soerjoko, pemilik Aquarius:
Kita kirim piringan hitam sample ke Radio radio diseluruh Indonesia, ternyata lagu lagu dari album jurang pemisah kurang mendapat respon yang baik, tidak terlihat ada signal permintaan. Ada kemungkinan bahwa radio kurang suka atau belum bisa menerima. sehingga sample PH dimasukan saja kedalam rack dan tidak pernah diputar( masuk kotak ), atau ada yang putar tapi memang pasar belum bisa menerimanya.
Chrisye, dalam Chrisye: Sebuah Memoar Musikal (Alberthiene Endah, 2007), mengenang album Jurang Pemisah, “Yockie berkali-kali mengatakan, ia akan bereksperimen habis-habisan untuk menonjolkan karakter suara saya.”
Ihwal penjualan album, Chrisye dalam memoar mengatakan, “… hangat-hangat tahi ayam”. Kesan saya, tak semua orang sebaya saya, yang mengenal LCLR dan Badai Pasti Berlalu, juga mengenal lagu JP dan album Jurang Pemisah.
Apakah lirik JP juga mewakili kegelisahan James terhadap zaman, yang menyangkut keadilan? Kalau lagu JS memang pernah dia akui sebagai simpati terhadap eksil eks RMS di Negeri Belanda yang rindu kampung halaman.
Soal lagu JP yang tak ramah radio, pada saat itu, dengan durasi 9 menit, kita tinggalkan saja. Ada soal lain yang menarik: gambar sampul.
Penasaran langsung cari vinyl album ‘Jurang Pemisah’ di rumah. Sepatu sama dengan poster ‘Born to Run’ yang baru saja di tweet @springsteen ya? pic.twitter.com/z3e9ULGkXz
— Adib Hidayat (@AdibHidayat) August 26, 2022
Sebelum ramai pada 2022 di X, karena posting Bruce Springsteen, saya pernah membaca entah di mana bahwa sampul sepatu sniker jadi pilihan karena James terkesan pada sebuah poster di tembok sebuah kantor. Pada 1980-an saya pernah melihat poster itu dari sebuah buku desain grafis tetapi saya lupa itu poster apa. Lesin sebagai perancang sampul mungkin bisa ditanya.
Terlepas dari asli atau hasil plagiarisme, gambar sampul Jurang Pemisah pada zamannya, untuk musik Indonesia, adalah nyeleneh sekaligus menarik.

4 Comments
kalau berdasarkan cerita yockie belasan tahun lalu di blognya, ide gambar sampul itu datang dari tono sebastian, penyiar prambors yg menjalankan label pramaqua bareng pak ook dari aquarius. tono spontan menunjuk sebuah poster di tembok kantornya, karena menurut dia gambar sepatu lusuh di poster tersebut cocok dengan tema kesenjangan sosial yg diusung yockie di nomor tandemnya bersama james f. sundah (di sleeve kaset ditulis sebagai “james s.”) yg menjadi judul album, yakni jurang yg menganga antara si kaya dan si miskin, antara “puncak bukit megah” dan “dalam liatnya lumpur”. atas alasan yg kurang lebih sama, tono juga usul ke yockie agar menyelipkan suara lonceng yg ada di leher sapi penarik gerobak ke dalam musik di album tersebut. gerobak sapi ini sering berpapasan dengan yockie yg membonceng skuter tono dalam perjalanan mereka menuju studio rekaman. gerobak sapi x skuter pribadi, saya rasa sedikit banyak juga berbicara soal kesenjangan itu sendiri.
Saudara betul. Iya, Tono. Soal genta sapi saya ingat cerita itu di JSOP.net. Suwun 😇🙏
Setelah membaca tulisan ini, saya mencari lagu Jurang Pemisah di Spotify.. memang panjang lagunya!
Sembilan menit lebih, kadang terasa sudah ganti lagu namun ternyata belum.
Yah, era progressive rock dan art rock dulu memang ada saja lagu lebih dari tiga menit.