
Sore tak terlalu gerah, Kamso duduk di bawah pohon jambu air, menunggu Kamsi yang sedang asyik ngobrol dengan nyonya rumah. Di luar, Pak Yanto Blekok sang tuan rumah sedang ngobrol soal buzzer atau pendengung dengan Fauzi Wafer, menantunya.
“Menurut Pak Kam, buzzer rupiah itu etis nggak?” tanya Pak Yanto.
“Mungkin ada yang etis, ada yang nggak,”jawab Kamso.
“Hahaha! Jawaban Oom Kam normatif cari aman!” sergah Fauzi.
“Kayaknya Pak Kam mau bilang, yang etis itu jualan hal bener. Yang nggak etis cuma asal nyebar info tanpa mikir itu bener apa nggak, atau cuma fitnah, atau kampanye hitam buat membunuh karakter untuk konten politis, atau self-claim bo’ongan kalo buat bisnis. Pokoknya bener atau salah itu urusan klien,” kata Pak Yanto.
Kamso hanya tertawa.
“Mestinya nggak gitu. Itu sih asal mikir cuan, maju tak gentar membela yang bayar. Kalo kontrak selesai, bisa ganti membela lawan atau kompetitor. Gitu kan, Oom?” Fauzi menimpali.
“Mungkin,” sahut Kamso.
“Saya lebih menghargai buzzer ideologis, mau bo’ong mau jujur, karena hati, nggak mikir duit,” kata Fauzi.
“Setuju!” kata Pak Yanto.
“Gimana Oom?” tanya Fauzi.
“Mungkin para buzzers, termasuk agensi eh koordinatornya, menempatkan diri sebagai biro reklame yang dulu suka pasang iklan baris dan iklan kolom di koran. Apapun maunya klien diturutin, tugas biro kan masang iklan. Jual mobil bekas dibilang bagus, padahal remuk, itu kan tanggung jawab penjual,” jawab Kamso dengan datar.
“Lah artinya koran juga gitu. Sami mawon! Cuma sewain ruang iklan. Nggak ngerasa bertanggung jawab. Lalu percetakan masang disklaimer isi di luar tanggung jawab mereka. Payah!” kata Fauzi.
“Artinya si buzzer nempatin diri sebagai biro eh agen reklame, lalu si pemilik platform berposisi sebagai koran yang sediain iklan baris sama iklan kolom. Tapi menurut saya, analogi Pak Kam kurang tepat. Repotnya saya nggak tau melesetnya di mana,” kata Pak Yanto.
“Mungkin gini,” Fauzi menanggapi, “iklan baris dulu bikin Pos Kota laku, dibeli orang yang butuh motor sama mobil bekas, cari kos dan kontrakan, sama lowongan kerja.”
Lalu, “Platform medsos juga gitu, tapi metrik mereka lebih rumit, yang pasti dapat trafik buat melayani pengiklan komersial. Tapi dampak buzzer bisa merusak kehidupan bersama. Kalo mobil bekas yang ancur kan cuma rugi di pembeli. Kalo pesan dari buzzer, bisa bikin masyarakat kebelah, tokoh tertentu bisa dihabisi pake fitnah. Celakanya pesan sesat lebih membahana, dengan atau tanpa cetar! Apalagi konten tentang kesehatan. Suara jernih dan sesuai kewarasan jadi tenggelam. Atau milih presiden. Gara-gara orang bayaran tanpa hati. Gitu kan, Oom?”
Kamso belum menjawab, Kamsi sudah nongol, bawa rantang, “Mas, nih kita dibikinin rawon andalan Bu Yanto!”
