
Aha! Ini dia! Oseng-oseng kulit melinjo. Saya melihatnya terwadahi piring, dalam kotak kaca lauk prasmanan, di belakang tiang berkipas pengusir lalat di warung makan Jasun (Jawa Sunda). Saya langsung minta diambilkan oleh orang warung. Saya sempatkan diri memotret dari depan dan belakang.
Saya lupa kapan terakhir kali makan oseng-oseng kulit melinjo. Sebelum Covid-19 seingat saya. Malah mungkin sudah delapan tahun lebih saya tak menikmati oseng-oseng kulit melinjo.

Ya, saya menyukai kulit melinjo. Saat menyantap sayur asem, saya hanya mengambil kulit melinjo, bijinya untuk istri saya karena saya tak suka namun kalau emping melinjo saya suka.
—
Satu lagi yang saya suka dari kulit melinjo adalah sebagai mata maling. Ya, itulah sebutan orang Jateng, terutama Solo Raya, untuk kulit melinjo goreng. Mungkin sudah hampir sepuluh tahun saya tak memakannya. Sebenarnya dijual lokapasar sih.
Mengapa disebut mata maling (baca: moto maling)? Konon mata maling selalu merah karena kurang tidur. Kaum nokturnal kalau siang cukup tidur, matanya hanya seperti kulit melinjo mentah: ijo. Terutama kalau melihat tumpukan dollar Amrik pecahan cepek, bisa buat capex buka warung kecil. Namun harap Anda ingat, kalau asam urat naik jangan makan apa pun dari pohon melinjo termasuk daunnya. Kalau menurut Halodoc sih kulit melinjo bisa menurunkan asam urat.

