
Saya termasuk orang yang gagap dalam matematika dan statistik. Saya juga bukan seorang analis ekonomi. Namun membaca grafik tentang kecenderungan upah buruh di Kompas (Minggu, 3/5/2026) saya terkesan. Pertumbuhan upah ternyata menurun.

Intinya, jangan hanya melihat angka riil rupiah dalam upah, tetapi amatilah persentase kenaikan dan penurunan. Lagi-lagi saya membayangkan menjadi guru ekonomi di SMA: apakah setiap guru kreatif dalam menjelaskan masalah ekonomi?


Maksud saya guru dengan kesejahteraan yang layak — bukan guru honorer yang nasibnya di bawah pekerja dapur MBG — dan mengajar di sekolah dengan fasilitas pendidikan yang memadai.

Upah dan inflasi harus selalu diperbandingkan. Semua orang tahu dan merasakan nilai Rp10.000 dari tahun ke tahun cenderung melemah. Saya tak tahu bagaimana guru ekonomi menjelaskan nilai tukar petani. Dalam bahasa yang mudah, apakah keuntungan petani memadai?

Ekonomi memang rumit. Semua orang merasakan bahwa ekonomi itu berat, tetapi penalaran dalam memahami tentu diperlukan bagi orang terdidik. Maka peran guru sangat penting, demikian pula konten media berita dan media sosial karena memberikan perspektif terhadap masalah. Tetapi orang sinis bilang, yang punya kemampuan analitis justru kaum yang tidak kesrakat, yakni pengusaha dan profesional bisnis.
¬ Infografik: Kompas

