
Tadi, pukul lima lebih, pagi saat terang tanah, berkelebat Pak Baik sedang mengumpulkan botol bekas dan kardus bekas. Pada punggung kaus tampak tulisan “Politik itu Suci”.
Saya tertarik, lalu memohon izin untuk memotretnya. Seluruh teks tampak, namun karena lipatan kain kaus maka huruf “h” pada kata “lemah” pun terpangkas sebagian sehingga mirip “i”. Tulisan lengkap kaus: “Politik itu Suci. Bela yang Benar dan Lemah”.

Ah, namanya juga slogan kampanye Pilpres 2024. Semua jualan terdengar bagus bahkan luhur. Namun kini saya terjebak dalam ambiguitas penyebab masygul. Memangnya politikus dan partai masih bisa saya percayai? Namun di sisi lain akal saya mengatakan mereka masih dibutuhkan karena demokrasi masih saya harapkan.

Dua kali saya mendukung Mulyono, pada 2014 dan 2019, lalu keblondrok, terutama setelah skandal Mahkamah Konstitusi tanpa rasa malu. Dalam Pemilu 2019 saya ajak keluarga saya memiliki PSI. Ternyata saya tertipu. Saya tak sakit hati jika dibilang dungu.
