
Dari sejumlah iklan kursus pengembangan diri, biasanya lebih keren kalau disebut self improvement, ada hal yang baru saya ketahui. Kursus humor untuk pengajar.
Saya tak berani mengikuti kursus yang diselenggarakan oleh Institut Humor Indonesia Kini (Ihik3, dibaca ihik-ihik-ihik) karena dua alasan. Pertama: saya bukan pengajar; memang sih saya orang kurang ajar, dalam arti kurang diajar karena tak ada yang sudi mengajari maupun kurang belajar karena saya malas.
Kedua: saya tahu diri, selera humor saya cetek dan kebal upgrade maupun top-up. Sudah mentok. Dalam bertutur lisan maupun tertulis saya tak mampu menyajikan kelucuan. Saya selalu yakin diri saya serius. Tak ada unsur kejenakaan. Kalau kejemawaan sebagai anomali kadang memang kambuh, namun sebentar, lalu kembali ke built-in: rendah diri.
Dahulu, pada 1980-an, majalah Tempo pernah memasang poster lowongan wartawan, ditempel di kampus-kampus. Poin terakhir dalam syarat adalah “memiliki sense of humor“. Saya tak tahu dari semua yang lolos rekrutmen, berapa skor tertinggi untuk poin tadi, dan apakah orangnya betah sampai pensiun. Goenawan Mohamad, dalam majalah Zaman, adiknya Tempo, dulu punya rubrik GM Menjawab, tanya jawab pembaca dan dia. Isinya lucu.
Saya mencoba mengaduk ingatan tentang guru dan dosen saya pada masa lalu. Ada yang bisa membuat murid tertawa dan ingat apa yang dia ajarkan, dan lebih banyak lagi tampak lucu jika sedang marah. Maksud saya menjadi lucu saat mata pelajaran selesai, guru sudah meninggalkan kelas, lalu para murid membahasnya. Ada yang menirukannya.
Ada juga Bu Guru galak, berbadan besar, yang ketika marah sambil menghardik seorang murid, sekelas malah tertawa. Begitu Bu Guru masuk, seorang anak langsung sok ramah, “Selamat pagi, Bu. Bagaimana kabar?”
Bu Guru langsung marah, sambil berkacak pinggang, “Sekali lagi kamu bilang begitu akan saya lempar lewat jendela!”
Seisi kelas di sekolah yang levelnya lebih tinggi dari SD itu terbahak. Anak-anak tahu, nama suami Bu Guru adalah Pak Kabar, pegawai Pegadaian.
Bu Guru galak itu baik. Setelah tak menjadi muridnya, saya pernah bertandang ke rumahnya di luar kota, naik sepeda. Di sana saya dijamu makan siang lalu diajak main scrabble. Dia berceloteh dengan tawa. Pak Kabar hanya sekali menyapa saya, namun tak menanyakan kabar saya.
Jadi apa itu lucu, kelucuan, dan humor? Mungkin dalam kursus akan dibahas.
Saat kuliah saya ambil mata kuliah wajib bahasa Inggris. Dosennya galak, pelit nilai, dan pendendam. Dia mewajibkan semua mahasiswi dalam mata kuliahnya berlipstik jelas. Semua cewek patuh. Sebagai orang Katolik, dosen itu di tempat lain, universitas Katolik, juga menerapkan kewajiban yang sama. Maka seorang suster ikut mata kuliahnya pun terpaksa berlipstik.
Selera humor dosen itu, dalam bahasa Inggris, Indonesia, maupun Jawa, bagi saya aneh. Sering kali tidak lucu. Namun dia akan menatap tajam mahasiswa yang tak tertawa, termasuk saya.
Saya pernah ditanya kenapa tak tertawa. Mahasiswa lain lebih akomodatif, banyak yang tertawa. Isi banyolan dosen itu kadang menghina mahasiswa. Misalnya berpakaian kurang necis, mana badan berpeluh pula sampai warna baju terhiasi belang menua lantaran basah.
Intinya lucu dan tawa belum tentu berkelindan. Tentang dosen itu, yang pernah mengejar saya sampai luar kelas, saya selalu teringat film Hollywood maupun Hong Kong. Kalau bos penjahat melucu, anak buah pasti tertawa.
Pada abad lalu saya sebagai repoter kadang meliput lingkungan militer. Kalau atasan melucu, apalagi perwira tinggi, anak buah harus tertawa. Repoter lain juga ada yang asal tertawa.
Moral cerita yang saya dapatkan: dalam kondisi tertekan, orang bisa tertawa untuk hal yang tak lucu. Tentu bukan itu yang dimaksudkan dalam kursus Ihik3, yang salah satu pendirinya adalah Seno Gumira Ajidarma. Percayalah, dia orang serius.


2 Comments
Ihik3, angka 3 itu serius buat dibaca tiga kali aja, nggak ada arti lain, Bang Paman? Aya2 wae..
Pantesan Bu Kabar nyaris ngamuk wkwkwk. Mas Tyo selera lucunya mungkin kelucuan khas Inggris yang butuh mikir dulu baru ketawa 😁😁Just kidding Mas😁