
Anda saja yang menjawab pertanyaan dalam judul. Itu persoalan tiada bersudah. Sejak TK saya tahu Hari Kartini diperingati dengan melihat anak-anak perempuan di SD, yang sekompleks dengan TK, mengenakan jarik dan kebaya.
Akan tetapi saya tak ingat dua hal. Pertama: apakah teman cewek saya di TK juga berkain kebaya. Kedua: saya tak tahu lebih banyak jarik batik ataukah kain tenun, namun saya ingat ada cewek SD yang mengenakan busana Minangkabau.
Dalam perjalanan waktu, Hari Kartini juga diperingati sebagai festival busana daerah. Saya ingat, saat kelas satu SMA di Salatiga, Jateng, ada cowok indo, sosoknya sangat bule bukan albino, anak kelas tiga, yang sehari-hari berjalan kaki, pada Hari Kartini mengenakan setelan jarik surjan belangkon Jogja dengan selop. Dia datang menyetir VW kombi karena tak mungkin jalan kaki. Hari itu ada lomba busana daerah antarkelas, untuk cewek dan cowok.

Hari Kartini dan kebaya. Masih berlaku hingga kini. Kemarin di Kompas (20/4 /2026) ada foto berita tunggal, jepretan Nyoman Hendra Wibowo dari Antara, dengan judul “Kartini Go Surf 2026 di Pantai Kuta”. Kapsi foto:
Perempuan peselancar mengikuti Kartini Go Surf 2026 di Pantai Kuta, Badung, Bali, Minggu (19/4/2026). Kegiatan berselancar mengenakan kebaya tersebut diikuti 20 peserta dengan enam di antaranya penyandang tunarungu dan satu warga negara Jepang sebagai perayaan memperingati Hari Kartini.

Ada yang menyebut kebaya tanpa kutubaru — yakni kain penutup dada yang menyatukan sisi kanan dan kiri pada kebaya, sebagai tempat melekatkan kancing — sebagai kebaya Kartini.
Tentang busana, Kartini dalam usia 20, ketika menyurati Stella Zeehandelaar di Negeri Belanda (18 Agustus 1899), mengenang masa remaja ketika ayahnya menerima tamu bule:
“Regen,” katanya lambat-lambat kepada bapak, tetapi kami pun dapat juga mendengarnya dengan terang dan bunyi suaranya nunjukkan, yang ia kecewa. “Putri”, saya sangka berpakaikan pakaian yang indah-indah, seperti pakaian bangsa Timur yang penuh bertatahkan dengan ratna mutu manikam; tetapi anak-anak tuan berpakaian sederhana saja.” Susah kami menahan gelak kami, tatkala kami mendengar itu. Dengan tiada disengajanya telah dipujinya kami dengan amat sangat. Belum pernah kami mendengar pujian orang demikian. Tak dapatlah engkau pikirkan, betapa besar hati kami, mendengar ia mengatakan kami berpakaian sederhana; kami takut sekali akan dikatakan orang sombong dan pesolek.
Perihal dirinya, Raden Ajeng Kartini (1879–1904), dalam suratnya untuk Stella (25 Mei 1894), menulis:
Namakan sajalah saya Kartini, karena demikianlah namaku. Kami, orang Jawa tiada memakai nama bapak atau keluarga yang lain. Kartini nama kecilku sambil namaku kalau telah besar. Raden Ajeng ialah dua patah kata, yang menunjukkan gelarku.
Dari penggalan surat itu, Pramoedya Ananta Toer mengangkatnya untuk judul bukunya, Panggil Aku Kartini Saja. Pram menempatkan Kartini sebagai perempuan progresif pada masanya. Sebenarnya ada empat bagian naskah, namun yang bisa dibukukan hanya bagian pertama dan kedua. Sisanya hancur dan hilang saat Pram ditahan.
Kartini menikah, tepatnya dinikahkan, dalam usia 24, dengan seorang priayi yang sudah beristri tiga. Usia sekian dalam budaya Jawa masa lampau dianggap sudah tua. Kartini menerima penjodohan itu dengan syarat suaminya mendukung perjuangan istri.
Dalam surat untuk untuk Stella, Kartini juga menulis:
Kawin di negeri kami ialah suatu kesengsaraan besar; sebenarnya kata kesengsaraan belum lagi sampai kerasnya. Bagaimana perkawinan tidak akan jadi kesengsaraan, kalau hukum dan adat semuanya memberi hak kepada laki-laki saja, perempuan sedikit pun tiada? Dan tak heran hal yang demikian, jika adat dan agama keduanya untuk si laki-laki; semuanya diberikan dan diizinkan kepadanya?
Kartini dipingit sejak usia 12, namun mulai usia 16 dia diizinkan melihat dunia di luar rumah, di Jepara, Jateng. Namun lebih banyak waktunya di dalam rumah. Dia pernah menulis:
Suatu keuntungan yang amat besar bagiku, hanyalah karena aku tidak dilarang membaca kitab-kitab bahasa Belanda dan berkirim-kiriman surat dengan sahabat-sahabatku bangsa Belanda.
Meskipun demikian, ada hal yang membuat Kartini merasa kurang lengkap karena dirinya tak dapat berbahasa Prancis, Inggris, dan Jerman. Bagi orang Belanda, kemampuan bahasa Belanda Kartini sangat bagus. Dia pernah menulis untuk majalah Belanda di Negeri Tulip itu.

Kutipan secara verbatim, apa adanya, dalam pos ini saya ambil dari buku digital Habis Gelap Terbitlah Terang: Buah Pikiran Raden Ajeng Kartini, dimelayukan oleh Empat Saudara, diterbitkan oleh Balai Pustaka 1922. Teks telah disesuaikan dengan EYD.
Buku tersebut dapat Anda baca maupun unduh percuma dari laman Masasilam.com. Pengelola situs terbuka terhadap koreksi untuk salah tik.
