Trump, Yesus, dan perang suci

Amerika sudah 250 tahun belajar demokrasi, tapi bisa memilih Donald Trump dua kali.

▒ Lama baca 2 menit
Donald Trump seolah-olah Yesus sang Penyembuh — Blogombal.com
¬ Tangkapan layar akun Truth Social Presiden AS Donald Trump yang mengunggah gambar ilustrasi menampilkan dirinya layaknya figur religius sedang meletakkan tangan di kepala seorang pria terbaring, dengan latar bendera AS, elang, jet tempur, dan Patung Liberty, Minggu (12/4/2026). Ilustrasi itu diunggah di tengah polemik dengan Paus Leo XIV terkait perang AS-Israel melawan Iran. Tangkapan layar diambil di Jakarta, Senin (13/4/2026). | Kompas / Irene Sarwindaningrum

Jangan menyebut Donald Trump itu sinting bahkan edan, karena orang dengan kondisi kejiwaan macam itu tak dapat dimintai pertanggungjawaban.

Hukum pun tak mengenal sebutan gila, harus ada keterangan psikiater dengan paparan ilmiah, dalam terminologi yang terukur, tentang kondisi kejiwaan seorang pelanggar hukum.

Kita tahu, Trump tak melakukan kejahatan ringan. Begitu pula mitranya, Benjamin Netanyahu. Mereka penjahat perang, melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Kita juga tahu Trump itu suka bicara kasar, tanpa kesantunan diplomatis. Untunglah para dubes Iran di pelbagai negara menghadapi retorika ngawur Trump dengan humor — bahkan menandai omongan Trump dengan 18+, tak pantas didengar anak-anak.

Ketika Iran masih menutup Selat Hormuz, dan Trump dengan ancaman minta dibuka, Kedubes Iran di Zimbabwe bilang kuncinya belum ketemu. Kini Iran sudah membuka selat¹, namun Amerika masih membloke laut di sana.

Trump itu aneh, tak dewasa, ngawur, dan bengis. Bahkan Paus Leo XIV pun dia serang dengan kata-kata. Paus yang berlatar kewargaan AS tak hanya pemimpin tertinggi Gereja Katolik namun juga kepala negara Vatikan. Trump tak punya rasa hormat kepadanya.

Paus Leo XIV, musuh Donald Trump — Blogombal.com
¬ Paus Leo XIV di pinggiran Aljir, Aljazair, Senin (13/4/2026). Aljazair menjadi negara Afrika pertama yang didatangi Paus Leo XIV dalam perjalanan apostoliknya. | AFP/ Alberto Pizzoli

Trump menyebut serangannya ke Iran sebagai perang suci. Dalam khotbah Minggu Palma lalu Paus menyindir, Yesus tak menerima doa orang yang mengobarkan perang.

Pekan ini sebelum melawat ke Afrika, Paus mengutip sabda Tuhan dalam Alkitab, Yesaya 1:15, “[…] bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah.”

Selanjutnya Paus mengatakan, “Saya bukan seorang politikus. Saya tak berniat berdebat dengan Trump.”

Akan tetapi Trump memang gemar cari perhatian. Pekan ini dalam platform miliknya, Truth Social, dia mengunggahkan gambar hasil AI, yang oleh kalangan Kristiani dapat ditafsirkan dirinya sedang menjadi Yesus sang Penyembuh.

View this post on Instagram

Trump kemudian menurunkan gambar itu. Tetapi kemudian dia mengunggah gambar dipeluk Yesus.

Apa boleh buat, kadung tergambarkan secara kolektif tentang sosok visual Yesus, apalagi pasca-Renaisans. Maka lukisan Leonardo da Vinci, Perjamuan Terakhir, diterima secara luas sebagai rekonstruksi peristiwa.

Bagaimana wajah dan raga Yesus tak ada yang tahu karena dulu, pada masa hidup-Nya, belum ada fotografi; kebetulan Kristianitas membolehkan penggambaran Yesus. Trump memanfaatkan visualisasi yang seolah biblikal untuk pencitraan dirinya nan megalomaniak.

Maka pertanyaan banyak orang adalah mengapa Amerika bisa punya presiden seperti Trump, sampai dua kali pula?

Masyarakat yang sakit bisa terpeleset memilih pemimpin yang sakit (jiwa). Bukan hanya di Amrik. Dari sisi keterwakilan dalam demokrasi, kasus macam Trump bisa dilihat sebagai pemimpin yang mencerminkan kondisi pemilihnya yang dahaga akan sosok pemimpin yang berani, tegas, tak peduli ngawur atau tidak, suka bicara kasar, tak konsisten, doyan main tuduh, pokoknya sesukanya, dan selalu merasa diri benar.

Pemimpin lain yang selanggam bisa menjadi sahabat Trump, bahkan anteknya, kecuali sejak dulu adalah seteru, misalnya Kim Jong-un.

¹) Iran kemudian menutup lagi Selat Hormuz

Tinggalkan Balasan