Iseng di puskesmas, sok kreatif sambil menunggu panggilan

AI bisa untuk iseng daripada bengong, sekaligus teman untuk belajar menulis efektif.

▒ Lama baca 3 menit

Desain grafis papan loket di Puskesmas Jatirahayu, Pondokmelati, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Lampu puskesmas itu sekadarnya, seperti rumah tinggal. Menurut kesan saya demikian. Maka stiker pada kaca loket kurang terbaca, terutama karena kombinasi warna jingga dan hijau.

Lalu saya manfaatkan ponsel saya untuk mereka-reka stiker kaca. Secara manual. Untuk mengisi waktu sembari menunggu panggilan.

Desain grafis papan loket di Puskesmas Jatirahayu, Pondokmelati, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Kenapa tak memakai AI? Saya bayangkan akan ribet mencobai perintah demi perintah agar sesuai kemauan saya. Maka saya membuat dua versi.

Desain grafis papan loket di Puskesmas Jatirahayu, Pondokmelati, Kobek, Jabar — Blogombal.com
¬ Kiri: stiker asli puskesmas. Kanan: stiker rekaan.

Pertama: berupa stiker dengan meniru tema warna puskesmas. Memang proporsinya tak sama dengan yang asli, karena mendesain secara manual di layar ponsel dengan jempol itu merepotkan.

Kedua: berupa stiker potong (cutting sticker) putih untuk kaca loket. Saya berasumsi latar yang gelap, yakni cokelat, hijau, dan tulisan metalik, bisa diatasi dengan warna putih.

Desain grafis papan loket di Puskesmas Jatirahayu, Pondokmelati, Kobek, Jabar — Blogombal.com
¬ Cutting sticker rekaan untuk kaca loket puskesmas.

Untuk kedua stiker ini sebelumnya punya asumsi, yakni posisi pengantre terhadap loket. Prinsip utama: jangan seperti sekolah yang menaruh informasi di atas meja presensi orangtua saat menghadiri pertemuan.

Begitu dua orang berdiri di depan meja, maka tulisan tak terlihat orang lain sehingga akhirnya banyak orang merubung meja. Lalu orang lain yang baru datang tak tahu perbedaan kerumunan setiap meja untuk kelas berapa.

Untuk puskesmas, saya mengandaikan:

  • Begitu datang dan masuk ruang maka pengunjung langsung melihat ketiga loket dan perbedaannya
  • Karena tersedia belasan kursi di depan loket, maka tak ada kerumunan di depan loket pendaftaran
  • Urusan di depan loket itu tak sampai tiga menit karena sebelumnya pengunjung sudah mendaftar via ponsel maupun mesin pendaftaran untuk beroleh tiket

Maka tulisan besar, terutama stiker potong pada bagian bawah, takkan tertutup lama oleh orang yang berdiri di depan loket. Artinya tulisan bisa dibaca dari orang yang duduk di kursi paling belakang.

——

Setelah desain rampung, saya menanya AI laman Google Chrome bagaimana tanggapan visual mata buta warna terhadap desain asli puskesmas; tanpa menyebut kata jingga, oranye, maupun hijau. Bukankah AI bisa membaca gambar teks, lebih maju dari OCR versi awal?

Desain grafis papan loket di Puskesmas Jatirahayu, Pondokmelati, Kobek, Jabar — Blogombal.com
¬ Stiker asli puskesmas yang dinilai oleh layanan AI.

Inilah jawaban AI yang saya salin:

Bagi orang dengan buta warna, foto tersebut akan terlihat berbeda tergantung pada jenis buta warna yang mereka miliki. Karena papan pengumuman tersebut menggunakan kombinasi warna merah/oranye sebagai latar belakang dan hijau untuk teks, ini akan menjadi tantangan visual yang signifikan.

Berikut adalah gambaran tampilannya:

1. Protanopia & deuteranopia (buta warna merah-hijau): ini adalah jenis buta warna yang paling umum. Orang dengan kondisi ini kesulitan membedakan antara warna merah, oranye, dan hijau.

* Warna teks: tulisan yang berwarna hijau akan tampak memudar menjadi warna kuning kecokelatan atau abu-abu kusam.

* Warna latar: latar belakang oranye akan terlihat seperti warna kuning tua atau cokelat.

* Kontras: karena warna hijau dan oranye memiliki tingkat kecerahan (luminance) yang hampir sama bagi mereka, tulisan tersebut akan tampak samar dan sangat sulit dibaca karena kurangnya kontras antara teks dan latar belakang.

2. Tritanopia (buta warna biru-kuning): jenis ini jauh lebih jarang terjadi.

* Warna teks: tulisan hijau mungkin tetap terlihat kehijauan atau kebiruan.

* Warna latar: latar belakang oranye akan tampak seperti warna merah muda atau merah.

* Kontras: kontrasnya mungkin sedikit lebih baik daripada tipe merah-hijau, namun tetap tidak sejelas mata normal.

3. Monokromasi (Buta Warna Total): sangat jarang terjadi, di mana seseorang hanya melihat dunia dalam skala abu-abu.

* Papan tersebut akan terlihat seperti foto hitam putih. Tulisan dan latar belakang mungkin memiliki gradasi abu-abu yang sangat mirip, sehingga teks hampir tidak terlihat sama sekali.

¬ Catatan penting: kombinasi teks hijau di atas latar belakang oranye/merah dianggap sebagai desain yang kurang aksesibel. Dalam standar aksesibilitas visual, sangat disarankan untuk menggunakan warna teks yang kontras (seperti putih atau hitam) agar tetap terbaca oleh penderita buta warna.

——

Kemudian saya menanyakan desain versi saya dengan tetap menggunakan tema warna puskesmas, yakni jingga dan hijau.

Desain grafis papan loket di Puskesmas Jatirahayu, Pondokmelati, Kobek, Jabar — Blogombal.com
¬ Stiker rekaan yang dinilai oleh layanan AI.

Dan inilah jawabannya:

Dibandingkan gambar sebelumnya, gambar ini memiliki tingkat keterbacaan yang jauh lebih baik bagi orang buta warna. Hal ini dikarenakan penggunaan kontras yang tinggi antara teks dan latar belakang.

Berikut adalah tampilannya bagi penderita buta warna:

1. Bagian utama (hitam di atas putih): bagian “Kluster 1”, “Kluster 2”, dan “Lintas Kluster” menggunakan teks hitam pekat di atas latar putih bersih.

* Efek: ini adalah kombinasi paling aman. Orang dengan jenis buta warna apa pun (termasuk buta warna total) tetap bisa membaca tulisan ini dengan sangat jelas karena perbedaan kecerahan yang ekstrem.

2. Bagian “PRIORITAS” (putih di atas hijau): meskipun latar belakangnya hijau, teks yang digunakan adalah putih.

* Bagi buta warna merah-hijau: latar hijau akan tampak kecokelatan atau abu-abu, namun teks putih akan tetap terlihat kontras dan menonjol di atas warna gelap tersebut. Tulisan tetap mudah dibaca.

3. Bagian “LOKET 3” (oranye):
teks ini memiliki garis tepi (outline) hitam yang sangat membantu.

* Bagi buta warna merah-hijau: warna oranye mungkin akan tampak seperti kuning kusam atau kecokelatan. Namun, karena ada garis tepi hitam dan teksnya cukup besar, bentuk hurufnya tetap terdefinisi dengan sangat jelas.

¬ Kesimpulan:
Desain ini sangat inklusif. Penggunaan blok warna putih untuk informasi penting adalah langkah cerdas karena tidak bergantung pada persepsi warna, melainkan pada kontras gelap-terang.

——

Eh, tadi saya bilang iseng. Kok jadi serius, membawa-bawa persoalan buta warna?

Sejak awal, pemantik hasrat iseng saya memang soal buta warna. Puskesmas adalah tempat pelayan kesehatan publik. Mestinya aspek informasi visualnya mudah dicerna semua mata.

Apakah desain saya bagus? Tidak. Bahkan fon Impact ST Std Regular untuk teks Kluster 1 dan seterusnya, dalam desain jingga dan hijau itu, kurang legible kalau dibaca dari jauh, dan kurang nyaman di mata, karena ramping pejal.

Sebaiknya kita memang menanya desainer grafis.

Selebihnya, justru ini yang menarik: bahasa Indonesia yang dipakai oleh akal imitasi itu bagus, dalam hal pilihan kata dan alur pikir, serta ejaan dan tata bahasa, sehingga efektif. Bisa menjadi teman belajar berbahasa bagi kita. AI memilih kata oranye, bukan orange. Sesuai kata Indonesia baku.

¬ Catatan: di luar sadar, saat membuat desain saya menggunakan kata “kluster”, bukan “klaster”. KBBI mengakui kedua kata tersebut.

2 Comments

Dedi Dwitagama Rabu 8 April 2026 ~ 11.50 Reply

Kata “Bekesong” koq tak ada di KBBI? Kenapa Pakde?

Pemilik Blog Rabu 8 April 2026 ~ 14.08 Reply

Tunggu ada orang Bekesong ada di Badan Bahasa 🤣

Tinggalkan Balasan