
Mobil bisa menjadi media pesan. Paling lumrah dengan stiker, apalagi kini stiker potong itu mudah. Nah, mobil ini memanfaatkan bingkai pelat nomor untuk menyatakan diri.
Bingkai pelat nomor juga sering dimanfaatkan diler mobil untuk mempromosikan diri. Sebenarnya itu kurang ajar, mereka manfaatkan properti orang untuk berpromosi tanpa izin. Serupa bengkel film kaca, bukan kaca film, menempelkan stiker logo pada kaca mobil.

Inti pesannya, selain mobil elektrik — istilah yang lumrah adalah mobil listrik — Wuling Cloud EV, si empunya memiliki kendaraan lain, yakni kapal terbang. Eh, ini istilah jadul ding ya. Masyarakat lebih akrab dengan pesawat, tanpa kata terbang.
Stiker yang dijual untuk mobil, yang kini terasa usang, adalah “real men use two pedals“. Ada kebanggaan dan pembenaran diri menggunakan transmisi manual — padahal manual berarti tangan — dengan kopling.
Pemain off-road dan drifting amat terampil dengan dua pedal. Tentu tidak bisa dibalik, bahwa orang yang bisa mengemudikan mobil manual berarti off-roader dan drifter.

Dari stiker mobil manual itu muncul pelesetannya, pedals diganti sandals. Adapun stiker gaya lama yang dipelopori Joger Bali namun ternyata masih dijual adalah status mobil barang kreditan.
Mayoritas mobil pribadi dibeli dengan kredit, dan justru dengan itu industri otomotif dan keuangan bisa merancang hari esok.

Lalu siapa pemilik mobil yang punya montor mabur atau montor muluk itu? Dia seorang pensiunan pilot pesawat komersial.

3 Comments
Jazz merah tua saya (12 atau 13 tahun) stikernya Hello Kitty😁
Sangat tjotjok dgn Lik Jun. Trail Lik Jun juga keren ditempeli Hello Kitty 👏👍🎶
🤣😂😅