Sigaret cap Onta dengan kemasan keren tapi ribet

Konsumen apa pun, tak hanya rokok, harus diyakinkan bahwa produk yang mereka beli itu berkelas.

▒ Lama baca 2 menit

Camel kretek tanpa filter dengan kemasan keren tapi merepotkan — Blogombal.com

Sabar, saya tidak sedang mempromosikan rokok. Saya membahas kemasan produk tembakau. Produk ini, Camel kretek tanpa filter, saya kenal awal tahun lalu. Camel dari bahasa Semit: Jamal.

Kemarin karena iseng memotreti bungkus, saya pun mengeposkan Camel kretek ini. Kesan pertama: bungkusnya keren, dalam arti artistik dan dari sisi teknis, yakni pengemasan, unggul karena ada penguncian memanfaatkan lipatan art paper tebal, dan fungsi engsel agar bungkus dapat dibuka seperti pintu.

Camel kretek tanpa filter dengan kemasan keren tapi merepotkan — Blogombal.com

Adapun kesan kedua: dengan segala kebagusan itu, kotak rokok ini malah bikin ribet untuk membukanya. Dimulai dari membuka plastik segel, menanggalkan pita cukai, membuka tutup dan seterusnya sampai membuka selubung kertas berlapis lilin terasa lama.

Maka pertanyaan saya mengapa produsen membuat kemasan ribet? Saya beranikan diri menjawab: supaya produknya tampak berkelas, konsumen membukanya dengan takzim.

Camel kretek tanpa filter dengan kemasan keren tapi merepotkan — Blogombal.com

Semoga pula untuk mengambil batang kedua dan seterusnya hingga habis tidak terburu-buru karena tetap ribet. Artinya konsumsi batang rokok bisa berkurang.

Soal lain adalah biaya pengemasan. Saya mengandaikan tak semua pabrik punya mesin pengemasan macam ini, sehingga harganya lebih mahal daripada yang umum. Biaya bahan, yakni kertas, juga lebih tinggi. Selain itu juga kapasitas terpasang belum tentu terpakai maksimum.

Saya tak tahu berapa selisih biaya kotak ribet ini dengan kotak biasa yang juga dipakai oleh produsen rokok ilegal berkelas industri rumahan. Ujung-ujungnya, biaya dibebankan kepada konsumen.

Harga Djarum Safari rasa srintil isi 12, dengan bungkus gerenjeng per batang, lebih mahal Rp2.000 daripada yang tanpa selongsong tambahan. Komentar saya untuk masalah ini: salah sendiri merokok, dengan kemasan bergaya pula.

Camel kretek tanpa filter dengan kemasan keren tapi merepotkan — Blogombal.com

Soal lain? Umumnya kemasan rokok yang dirancang gagah itu disertai teks yang maunya sugestif namun tak mudah dicerna apalagi diingat. Mirip sambutan ketua RT, ketua RW, dan lurah dalam umumnya halalbilhalal warga: panjang, mbulêt.

Kenapa kemasan rokok jadi ceriwis blablabla? Jangan mencitrakan rasa rokok itu enak karena dilarang oleh pemerintah dan etika periklanan.

Yah, soal ndobos tak hanya rokok. Banyak produk bertutur demikian. Intinya mengatakan bahwa produk tersebut dikerjakan serius, tidak sembarangan, ada falsafahnya, dan kualitasnya selalu terjaga. Lebih sip kalau ditulis berdwibahasa, Indonesia dan Inggris. Entahlah, setelah AI mampu merancang kata-kata indah, apa pula pekerjaan penulis wara (copywriter) konsultan jenama?

Ihwal kretek, yakni sigaret dengan kandungan cengkih, adalah produk khas Indonesia. Pemain luar yang menggarap Indonesia pun akhirnya menyesuaikan diri.

Produk ini dari Japan Tobacco Inc. (Winston, Camel, Mevius), dibikin oleh PT Karyadibya Mahardhika (KDM, dulu anak usaha Gudang Garam), Pasuruan, salah satu kabupaten sentra rokok di Jatim. KDM juga bikin Apache, Extreme, Absolute, dan Minna.

Camel kretek tanpa filter dengan kemasan keren tapi merepotkan — Blogombal.com

Artinya bagi pemain global, pasar rokok di Indonesia masih menjanjikan karena negeri ini adalah pasar rokok kedua terbesar di dunia, kabarnya 320 miliar batang per tahun — hampir 90 persen adalah kretek. Menurut WHO, Indonesia adalah negeri perokok ketiga setelah Tiongkok dan India.

Pemain global selain Philip Morris dan BAT yang menggarap Indonesia adalah KT&G (Korea Tomorrow & Global, produsen Esse), produknya antara lain rokok kretek tanpa filter Juara. Fungsi filter atau tip bukanlah mengurangi isapan racun tetapi mencegah bibir dan jari terselomot bara rokok.

Singkatan lama KT&G adalah Korea Tobacco & Ginseng — namun dalam perjalanan masa, kata “tobacco” tak ramah investasi. Seperti halnya JIT, KT&G dulu BUMN pemegang monopoli di negerinya. Pemerintah Jepang menjual sebagian saham JIT antara lain untuk membiayai pemulihan akibat gempa bumi dan tsunami di Tohuku pada 2011 (Japan Times, 2013).

Lalu ke mana arah pembatasan produk tembakau? Silakan Anda cari, adakah peta jalan pada tahun berapa takkan ada orang merokok di Indonesia.

¬ Bukan tulisan berbayar maupun titipan, tak mewakili kubu pro-tembakau maupun anti-tembakau.

Tinggalkan Balasan