
Dari meja saya di kedai masakan Sunda itu saya lihat tiang bambu sebesar batang betung itu lurus dan rata. Bagus sekali. Namun saat saya mencuci tangan dekat saung lalu mengetuk tiang terasa keras melebihi bambu, tak ada gaung tipis resonansi rongga.
Saya amati dan raba buku, yakni pertemuan dua ruas bambu, pada tiang. Mulus. Saya amati lagi, ternyata buku itu adalah gambar hasil kuas. Adapun warna kuning adalah cat. Saya lihat di bawah dek saung ada pipa serupa PVC, mungkin mereknya Pralon (diserap oleh bahasa Indonesia menjadi paralon) namun bisa juga Rucika, Vinilon, Alderon, atau entahlah.

Jika benar itu tabung PVC, berarti pipanya diisi semen dan tulang besi. Yakin? Nggak juga sih. Saya tak paham teknik bangunan. Tetapi misalnya benar itu PVC diisi cor, bagi saya itu kreatif. Saya lihat pipa kasau melintang juga berupa bambu mulus rata, bahkan tak menampakkan buku ruas.
Jika saya salah terka tolong Anda koreksi. Saya tak paham perkembangan bahan sintetis termasuk untuk atap, bahkan saya tahu ragamnya saat menulis tentang atap sirap dan gentengisasi. Kini papan untuk dinding dan dek dalam ruang maupun luar ruang pun bisa memanfaatkan WPC dan conwood.

2 Comments
Yang buku itu kalo dirimu gak bilang itu lukisan keliatan beneran ‘buku” atau sambungan
Kreatif ya, Bu 0😇