
Lihatlah judul pos ini: “Belajar naik motor saat Lebaran”. Itu fakta, apalagi jika saya menyertakan data foto, ada tanggal dan jam, bahkan geotag. Tetapi jika saya membuat judul “Belajar naik motor karena Lebaran” bisa dibilang opinionatif, karena dua hal itu, yakni “belajar naik motor” dan “Lebaran” tak memiliki hubungan kausal.
Simpulannya bisa serupa jika saya menjuduli “belajar naik motor mumpung Lebaran”. Yah, baiklah kita tinggalkan soal kebahasaan. Bagi saya fakta tadi siang menjelang sore itu menarik, seorang cowok remaja sedang mengajari sesama cowok belajar mengendarai skutik pada Lebaran hari kedua.
Apa yang saya lihat selama dua hari Lebaran ini tak ada yang istimewa. Eh, ada ding. Istimewa bagi saya karena baru kemarin saya sadari, tentang mewadahi kacang bawang dan mete sampai munjung, melebihi tinggi bibir wadah. Nah, kegiatan belajar mengendalikan sepeda motor, kebetulan pas Lebaran, menarik bagi saya. Baru pada Lebaran kali ini saya menjumpai.
Perihal belajar naik motor, mereka yang sudah bisa naik motor, apalagi dulu berlatih sendiri tanpa tandem, menganggap belajar mengendarai skutik itu sepele. Mereka yang belajar motor bertransmisi manual sekaligus pedal mungkin juga menganggap demikian. Begitu pun yang belajar naik Vespa dengan kopling dan pemindahan gigi dengan satu tangan.
Untuk mobil pun sama, mereka yang dulu belajar menyetir mobil bertransmisi pedal dan manual menganggap mobil matik lebih gampang. Nyatanya pada awal 2000-an ada mobil matik seorang ibu setelah menanjak di sebuah gedung parkir di Jakarta lalu menerobos pagar tembok dan terjun ke tanah.


2 Comments
kalo mobil kan ada sekolah mengemudinya. kalo sepeda motor rasanya ngga ada, padahal penting juga. ngga semua soal cara mengendarai, tapi juga aturan dan adab, yang seringkali ngga didapat saat belajar secara otodidak.
Kalo untuk motor di atas 500 cc mestinya ada kursus dan ujian khusus.
Soal adab itu oh, yah gitu deh. Sebenarnya gak kenal jenis kelamin tapi uang sering jadi contoh kok emak-emak