
Sudah lama dan sering saya lakukan, membawa air minum botolan yang tidak habis saat bertamu. Kalau botol saya tinggal takkan bermanfaat selain untuk menyirami tanaman pot. Tadi saat hendak melanjutkan silaturahmi Idulfitri ke rumah tetangga lain saya putuskan untuk membawa suguhan botol berisi air minum dari rumah lain yang belum habis.
Sebelumnya, di rumah Pak Ustaz, saya dan istri bersepakat satu botol untuk berdua. Menjelang pamit isi botol saya habiskan. Di rumah berikutnya, perut sudah penuh, sehingga isi botol kecil tak habis, lalu botol saya bawa bertamu ke rumah berikutnya. Sahibulbait memahami alasan saya.

Nah, di rumah itu semua kotak penganan masih tersegel selotip rangkap tanpa lidah terlipat. Saya yang membukakan segel. Namun setelah selesai, saya tak berani membukanya. Kacang bawang di dalam kotak itu penuh, tingginya melebihi bibir wadah. Nyonya rumah mencoba nenyendok maupun menjumput kacang, walah kacangnya luruh.
Giliran berikutnya, saya membuka kotak berisi mete yang penuh seperti kacang bawang tadi. Kêbak mêncêp, kata wong Jawa. Dari sisi konsumen, hal ini menyenangkan. Merasa membeli barang yang penuh, tak seperti kacang atom maupun keripik dalam kantong yang cuma terisi sepertiga wadah.

Saya penasaran bagaimana cara mengisi biji-bijian ke dalam wadah sampai mumbung atau membukit. Saya cari di YouTube belum ketemu. Kalau kotak berisi kue bundar maupun kotak sih tak masalah karena dalam penataan tak mudah tergelincir. Mungkin saja ini hal biasa namun saya tak pernah menyadari. Barangkali Anda tahu caranya?


2 Comments
mungkin wadah diserok dan ditutupsaat masih di bawah? repot juga ya kalo sampe munjung begitu
Saya membayangkan bagian dalam dinding kotak dipagari kertas lalu kacang diisikan sampai melebihi pèrès. Tapi waktu kertas ditarik kan isi kotak bisa jugruk ya.