Kemarin, menjelang pukul empat sore, pada hari pertama Lebaran, seorang tukang bakso mendorong gerobaknya sambil membunyikan mangkuk, lewat di depan rumah saya. Sayang ponsel sedang saya cas di dalam rumah. Saya tak dapat memotretnya.
Dari kursi teras saya membatin, Lebaran baru mulai sudah ada yang eneg dengan aneka hidangan hari raya sehingga tukang bakso yakin berkeliling. Bagi orang yang merayakan Idulfitri sehari sebelumnya, mungkin rasa mbenger sudah lebih dahulu menjemput.

Saat itu saya menanya diri, bertambah banyakkah sampah makanan dalam Lebaran kali ini — selain sampah wadah plastik? Hari ini saya temukan konten seputar Lebaran di Kompas, yang agak melawan arus. Yakni tentang sampah makanan selama Lebaran (22/3/2026).

Tanpa hari raya macam Lebaran dan Natal serta tahun baru, sisa makanan adalah beban bagi lingkungan. Banyak keluarga menyediakan makanan besar berlimpah. Kalau makanan awetan sih akan habis secara bertahap. Isi ompreng MBG yang tertolak juga merupakan pemborosan.

Saya tak tahu bagaimana pemerintah mengatasi makanan sampah karena dalam pengandaian saya masalahnya berbeda dari sampah biasa. Setidaknya terdapat sumber pangan yang terboroskan lebih cepat. Saya tak mudah terbebas dari membuang makanan karena tak mungkin sudah kenyang harus memaksa diri untuk menghabiskan, padahal sudah menyimpan dalam kulkas untuk kemudian saya hangatkan, lalu eneg. Sejumlah cara untuk mengurangi hal itu sudah saya lakukan sih.

¬ Infografik: Kompas


2 Comments
menghitung volume kerucut lebih rinet daripada sekadar menghitung volume balok. tapi secara visual, kerucut memang keliatan lebih waw.
Betul. Setelah ada AI tentu lebih mudah 🤣