
Dekorasi di balik kaca pada dinding mal ini terasa usang, sudah memudar karena entah sudah berapa tahun tersapa mentari. Kemasan visualnya pun kurang menarik.
Saya tak tahu dekorasi ini terpampang sejak kapan. Mungkin malah sebelum pandemi Covid-19. Jika benar demikian, taruh kata 2018, berarti sudah delapan tahun.
Mengapa dekorasi menggunakan gambar vektor, bukan foto dari bank foto berbayar karena kalau mengorder pemotretan khusus terasa mahal, mungkin karena kepraktisan. Lagi pula dekorasi ini menempati fasad samping gedung yang menghadap ke ruko, bukan ke arah jalan raya.

Saya tak tahu dekorasi ini milik manajemen plaza atau milik penyewa, Matahari. Kalau milik Matahari, masa sih kemasannya macam itu? Abad lalu sebelum era fotografi digital, toserba itu kerap memakai foto dari model Susan Bachtiar, ada di iklan koran hingga pilar toko. Kemudian kemasan visual selalu diperbarui.
Kini soal gambar bukan masalah karena ada AI. Sebelumnya, mencari wajah Asia yang mengindonesia untuk bidang besar itu tak mudah, termasuk dari misalnya Shutterstock, karena wajah dan pose belum tentu sesuai kebutuhan. Maka dekorasi dinding proyek properti, dengan cetakan digital besar, dulu kadang berisi wajah bule.


2 Comments
kayanya era gambar vektor ini memang lagi tren. beberapa web pake ilustrasi vektor juga. bahkan saking ngetrennya, semuanya hampir mirip..
Lha yes 🤣👍