
Saya tak tahu apakah sejumlah mal dan pusat perbelanjaan masih melarang pelajar berseragam sekolah bermain ke mal. Nyatanya saya melihat pelajar SMP masuk sebuah mal di Kobek, Jabar, siang hari, seusai jam sekolah. Mereka mau ngapain, saya tak mencari tahu.
Bisa saja mereka ke toko buku Gramedia. Ketika toko buku Gunung Agung masih ada di plaza itu, mungkin mereka juga ke situ. Atau mungkin mereka ke toko ponsel, mau beli aksesoris? Bisa saja.

Jadi bagaimana sebaiknya? Terserah setiap mal dan plaza untuk melarang atau membolehkan. Kalau di Pusat Grosir Cililitan, Jaktim, mau tidak mau pelajar yang naik bus Transjakarta akan masuk blok pertokoan karena akses ke dari halte dari area dagang.
Artinya pemkot atau pemkab tak perlu melarang. Biarlah masing-masing orangtua dan sekolah, selain mal, yang mengatur. Emang kalau wali kota atau bupati melarang, lantas satpol PP akan mengawasi secara kontinu dari luar karena di dalam mal ada satpam?

8 Comments
Teman saya pernah berseragam sekolah saat naik bus menuju sebuah gunung yang akan kami daki.
Harapannya dia bisa bayar murah atau setengah harga, sesuai tarif pelajar. Sayangnya Pak Kernet tetap mengenakan tarif normal.
Wah gak bener ini kalo tidak temen Njenengan masih SMP atau SMA. Kalo sdh kuliah ya ndak bisa. 🫣
BTW waktu msh kuliah saya naik bus dari Salatiga ke Kartasura, kebarengan teman SMP yang jadi polisi, tugas di Tawangmangu.
Kami duduk jejer, bernostalgia. Dia pake jaket polisi model lawas. Waktu dihampiri kondektur, teman cuma bilang, “Rasah! Iki kancaku!”
Kami naik bus gratis 🫣
Saya juga pernah naik bus Rela gratis. Penyebabnya adalah karena kernetnya teman sekelas saya saat SMU. Lama tidak ketemu, ketemunya malah di atas bus.
Nama busnya bagus: Rela.
Bus legendaris trayek Solo – Purwodadi, Paman. Logonya menyerupai logo stasiun TV RCTI.
apakah teman anda ini sering cosplay atau bahkan roleplay jadi murid dalam suaru adegan? 🫣
Saya tidak tahu dan tidak mau tahu karena dia laki-laki 😛
Karena anak kita perempuan? 🤔🫣🤭