
Logo hasil hasta karya dengan kuas dan cat itu sebagian sudah pudar, cat pada tembok yang menjadi latar gambar mulai meninggalkan putih. Namun jelas terbaca: Persib 1933.
Bagi saya hal ini menarik, padahal saya bukan penggemar sepak bola, dan terlebih-lebih tak paham sosiologi bal-balan. Selama ini yang sering saya lihat di Pondokgede dan Pondokmelati, juga Jatiasih, adalah logo Persija. Orang Kobek, Jabar, tak harus menjadi pencinta Persib.

Saya mengandaikan warga Jabar dari luar Kobek juga banyak. Penghuni rumah petak kontrakan sampai rumah tapak pribadi banyak orang Sunda selain orang Jawa dan Batak. Misalnya orang Jabar non-Kobek tak mendukung Persija juga wajar. Tentang dukungan orang Kobek terhadap Persija, saya membuat catatan di sini dan sana.
Karena tak paham sepak bola, saya tak tahu orang Jawa pendatang generasi pertama di Kobek, bukan anak dan cucunya, mendukung perserikatan maupun klub daerah mana. Ada wong Jateng, wong Jogja, dan wong Jatim — termasuk Madura.

Lalu apakah warga Kobek penggemar bola pasti mendukung Persipasi dan FC Bekasi City? Eh, barusan saya cek di Google Street View, dari Foto Februari 2025, di tembok ujung ada grafiti dengan cat putih: Persija 1926.


2 Comments
nah, kalo warga bekasi dukung persib apa persija ya? emang ada betul itu Bekasi City FC? 🫣
Ada, Zam. Salah satu pemilik FC Bekasi City adalah Atta Halilintar. Julukan klub ini adalah black horse.
Dulu klub ini bernama PSG Gresik, lalu jadi PSG Pati.