
Dulu, abad lalu, kamera saku point-and-shoot disebut kamera kuaci. Kini disebut kamera kentang. Entah apa hubungannya dengan kentang sebagai singkatan kena tanggung.
Mulai medio 1990-an, ketika kamera analog kompak kian maju, masih ada narasumber yang tersinggung difoto dengan kamera kuaci. Padahal Ed Zoelverdi (1943–2012), fotografer Tempo, penulis buku Mat Kodak Melihat untuk Sejuta Mata (1985), pernah saya lihat menggunakan kamera macam itu di Gedung Dewan Pers.
Akan tetapi kemajuan kamera kuaci analog seperti terhenti karena mulai awal dasawarsa 2000-an, kamera saku digital menggusur kamera saku analog. Sebelum muncul smartphones, banyak bloger menggunakan kamera saku digital.
Kini sudah biasa wartawan menggunakan ponsel berkamera untuk menghasilkan foto dan video. Lihat saja suasana konferensi pers dan wawancara doorstep — bukan doorstop, karena yang ini ganjal pintu — atau wawancara cegat: banyak ponsel teracung sebagai pengganti voice recorder penerus tape recorder. Ponsel juga untuk memotret dan membuat video. Tak ada narasumber yang melecehkan seperti zaman kamera kuaci.
Tentu kualitas fotografis ponsel berjenjang. Maka artikel Detik (Minggu, 15/2/2026) tentang pengguna kamera kentang, yakni ponsel berkamera entry level, yang diwadahi komunitas #CumaPakeHenpon, itu menarik. Intinya, menurut Fajar “Japra” Tri Wahyudi dari komunitas, “Kuncinya adalah percaya diri dengan HP yang kita punya saat ini.”
Saya berasumsi mayoritas foto diri, teman, dan benda serta tempat, di media sosial dihasilkan oleh ponsel. Dalam situs berita daring juga. Ada yang bagus, ada yang biasa.
Saya bukan fotografer, mendaku berhobi fotografi pun tak berani karena tahu diri, kemampuan memotret saya cuma kelas pengguna biasa, untuk ngeblog saat ini saya menggunakan Samsung A05, low-end di bawah Rp1,5 juta yang kini diskontinu, hadiah dari teman, Januari 2024, karena dia iba melihat ponsel lama saya.
Dari seratus jepretan termuat, yang memuaskan saya tak sampai sepuluh. Namun bagi saya bukan masalah. Saya lakukan apa yang bisa.
Dalam kutipan tak langsung, Detik merujuk Japra, “[…] banyak orang terlalu fokus pada spesifikasi hingga lupa bahwa fotografi sejatinya soal sudut pandang (point of view/POV). Komposisi, momen, cahaya, dan cerita di balik foto jauh lebih penting daripada sekadar resolusi megapiksel.”
Maka inilah tip dari saya:
- Kenalilah keterbatasan ponsel Anda
- Eksplorasi dan eksploitasilah ponsel Anda
- Teknologi ponsel terus berlari, kemampuan ponsel seharga Rp2 juta tiga tahun lalu kini tampak terseok-seok jika dibandingkan ponsel dengan harga yang sama
- Ini kuno, tapi masih relevan, intinya adalah practice, practice, and practice
- Jangan malu meniru karya orang lain untuk belajar
Bukankah kini fitur fotografis ponsel, apalagi setelah melibatkan AI, kian asoi sehingga bisa mengenyahkan unsur gambar yang tak diinginkan, termasuk orang? Ya. Apakah perlu mempelajari segala teknik klasik? Terserah. Tanpa perlu banyak berpikir, memotret subjek backlight pun bukan masalah? Betul.
Justru dari hasil jepretan kita yang ditopang oleh kemajuan teknologi digital itu kita bisa belajar.


5 Comments
zaman dulu, saat apa-apa rumit, pengen tekonologi maju yang gampang..
saat teknologi udah maju dan gampang, malah pengennya sesuatu yang rumit dan sulit..
namanya juga manusia.. 🫣
nah itu, soal POV dan komposisi yg sepertinya saya merasa gagal, pernah sampai beli DLSR tapi yg namanya jarang nemu angle yang bagus, eh maksudnya tak punya bakat utk itu, ya tetap saja hasilnya tak seperti yg diharapkan hehehe
Saya juga. Yang penting hepi dan nggak merugikan orang lain 😅 🤭
mangtavh™
semua foto di instagram saya juga pake henpon 🙂
👍 Hidup Cerebrum! 💐