
Wah, ringan juga ini. Namanya juga wafer, mestinya tak sepadat roti mari eh biskuit mari. Wajar kalau isi dalam kaleng seukuran Regal kecil terasa lebih enteng. Saat saya akan membuka selotip pada tutup, hanya ada selapis, dengan penanda berperfofasi untuk titik sobek pita bening itu.
Apa nggak cepat melempem, saya membatin. Lalu tutup kaleng pun saya buka. Aha! Isinya berupa kantong plastik mirip aluminium foil. Jadi tak seperti Marie Regal dalam kaleng kecil 500 gram yang ditata rapat, langsung dapat dicomot, namun pada awalnya harus berhati-hati karena ditata rapat, ada yang bisa patah.

Untuk ngemil wafer ini saya harus membuka kantong dulu. Isinya 240 gram. Saya tak menghitung ada berapa keping. Mengeluarkannya kantong dan kemudian memindahkan isinya dari kaleng ngglondhang itu juga mudah. Maka saya menyimpulkan telah beroleh bonus kaleng karena isinya cepat habis saat menjadi teman obrolan empat orang selama dua jam.

Walakin demikian jangan bilang isi wafer sedikit. Jumlah hampir seperempat kilogram itu setara dua kali wafer dalam kemasan kantong memanjang yang berisi 125 gram. Anda pilih mana, beli dua pak wafer @125 gram, dan hanya dapat bungkus serupa aluminium foil yang tak dapat dipakai ulang atau beli dua kali bobotnya dan dapat kaleng untuk wadah rengginang?


4 Comments
kadang bingung, udah dalam kaleng, tapi masih diplastiki
Biar bersih dan kedap 😅
Isi makanan kaleng sekarang emang rada-rada sih, kadang saya beli pun gara2 seneng dg kalengnya aja. Isinya ya gitu, ga sbanding dg wadahnya hehe
Kemasan memang menggoda. Yang penting lihat kandungan gula dan lainnya 🤭