
Tadi siang sungguh menyiksa saya. Berjalan kaki tak sampai satu kilometer, membeli makan siang di warung padang, ada yang saya kudap dan bawa pulang, badan sudah basah peluh.
Kedua lengan saya basah, peluh menetes. Kacamata berkabut. Udara amat lembap: 82 persen. Artinya kandungan uap air dalam udara adalah sebesar itu. Embusan angin diperlukan untuk membantu penguapan keringat dari kulit. Udara sejuk kering AC dapat melakukannya lebih baik.

Saya teringat dulu naik angkot kecil dan bus kota tanpa AC saat di luar hujan. Jendela dibuka, air masuk. Jendela ditutup, kabin sangat lembap ditambah embusan napas penumpang. Sumuk. Kacamata berkabut.
Beberapa hari belakangan hasil jepretan ponsel saat berjalan sore kurang tajam karena lensa agak berkabut. Saya harus menyuntingnya dengan filter yang merupakan fitur. Misalnya foto resto Rumah Jawa kemarin. Ponsel selalu dalam kantong celana saya yang berpeluh sehingga terimbas lengas.
Malam ini jarak tempuh saya lebih pendek namun kelelahan melebihi kemarin. Badan basah kuyup karena kelenjar keringat saya termasuk aktif. Kelembapan 88 persen. Alis tak sanggup menahan keringat sehingga cairan asin itu masuk ke mata. Kacamata selalu hampir melorot jatuh karena wajah basah terutama pada hidung dan cekungan daun telinga. Langit berawan setelah hujan tipis usai.

Baiklah, itu lumrah di negeri tropis basah. Saya teringat gerah pol, badan basah kuyup serasa mandi, ketika berada dalam lorong gua yang dindingnya mengalirkan air di dalam kaki bukit tambang emas warisan kolonial, milik Antam, di Cikotok, Banten, yang saat itu, 1990, masih berfungsi.
Untuk masuk ke lorong horizontal bertingkat-tingkat pun harus melalui sumur vertikal dengan lift kuno mirip kerangkeng. Seumur hidup baru kali itu saya masuk sumur dalam dinding mengucurkan air. Pakaian kerja tambang yang saya kenakan terasa menyiksa. Untung saat itu saya belum berkacamata, demikian pula fotografer sejawat saya dan petugas pendamping.
Lalu ke mana arah cerita saya? Covid-19. Pekan lalu Pak Pendeta dan Pak Majelis Gereja mengunjungi istri saya, dalam obrolan luas mereka mengenang saat berbaju hazmat rapat terusan mendoakan singkat jenazah yang akan diuruk dengan backhoe — awam menyebutnya bego. Derita mereka dalam pakaian tertutup itu saya simpulkan melebihi yang saya alami dalam gua.
Padahal kedua bapak itu hanya sebentar berbalut pakaian tertutup dari kaki hingga kepala. Bagaimana dengan para petugas makam dan operator alat berat yang bekerja tiada henti?
Bahkan malam hari pun mereka bekerja karena jasad terbalut mirip mumi yang akan mengisi lahad terus berdatangan, mobil jenazah mengantre panjang, kadang dalam guyuran hujan.
Ketidaknyamanan, apalagi penderitaan, itu sangat personal. Setelah berlalu kita mengenang dengan santai dan kadang berlebihan, lupa bahwa orang lain mengalami yang lebih berat.
Dalam pandemi bukan hanya petugas makam yang diberati tugas tetapi juga para korban dan keluarganya yang dipeluk nestapa, apalagi yang meninggalkan anak yatim piatu. Sebagian penyintas tak sesentosa sebelum tersengat virus korona.
Soal sumuk saya yang amat sangat tak ada artinya. Setidak nyaman apa pun. Itu cemen.


6 Comments
ini terjadi juga pada saya, terutama saat musim dingin. dari luar dingin, masuk ke angkutan umum yang agak hangat, langsung berembun.. hedeehh..
Kalo di Indonesia, kacamata berembun setelah keluar dari kendaraan ber-AC dan ruang ber-AC
Ingat Covid-19 ingat new normal, Bang Paman. Apa iya yak sekarang new normal?
Namanya juga new, artinya berbeda dari versi sebelumnya. Persoalannya lebih bagus atau sebaliknya?
Sekarang tidak lebih bagus. Lihat saja, contohnya, gentengisasi itu.
Eh ini ngomong soal apa, sih?
Lhaaaaa