
Tak ada yang aneh jika pintu diganjal apa pun agar selalu terbuka. Itulah buah akal manusia agar dirinya tak perlu berdiri memegang daun pintu, atau malah tak perlu menyadarkan badan pada pintu.

Maka batu utuh berkilat, yang saya lihat menjadi pengganjal pintu kaca berangka aluminium pada sebuah bangunan fasilitas kesehatan pertama BPJS, ini mestinya juga tak aneh. Tetapi bukankah banyak cara lain, dari memasang magnet, hak cantolan, sampai ganjal karet?

Mungkin karena ini bangunan pemerintah. Pembelian alat kecil murah pun harus pakai usulan resmi kecuali kepala kantor mau menalangi pembelian dan tak berharap dapat mengajukan klaim uang pengganti.

Ganjal batu juga memberi kesan menghormati alam, lagi pula lebih mudah karena untuk menghentikan tugasnya sebagai pengganjal cukup menggesernya dengan kaki. Tak perlu membungkuk.

¬ Bukan tulisan berbayar maupun titipan

9 Comments
di sini ada juga ganjal pintu berupa bantal kecil berisi kerikil
Wah menarik. Bisa ditiru 👏 👍
Saya kira cuma saya yang (sering) pakai kartu BPJS eh KIS😁
Istri saya mulai pakai. Saya akan menyusul. Pernah sih pakai BPJS ke IGD RSUD Tarakan, datang sendiri didrop sopir kantor, lalu karena saya sempoyongan dibantu satpam, lalu langsung diinfus. Saya ngabari sekretaris kantor dan istri lalu istri menjemput saya.
Sakit saya yang 2024 gak pake BPJS, ke RS pake tarif biasa, duit habis
Yg ke IGD RSUD Tarakan, enggak sampai rawat inap? Kalau enggak, berarti tetap bayar dong.
BTW saya terbantu oleh BPJS antara lain karena pernah operasi mata (yang biayanya sekitar Rp30 juta) dan sering periksa/kontrol mata yang, kalau bayar, mungkin sekitar setengah juta rupiah sekali datang (ongkos periksa dan obat/tes mata).
Oh itu karena sakit perut, keracunan makanan. Gak dirawat inap, gak bayar, habis diinfus pulang, dikasih resep dan surat istirahat.
Biasanya yang tidak bayar, setelah masuk IGD, adalah yang kemudian langsung rawat inap.
Lha saya kok ndak ya. Tapi waktu itu obat beli sendiri.
Beli obat sendiri = mbayar, Paman😁