Monde Nissin adalah kue dunia

Kue mentega dari Denmark ini terdampar di Ungaran. Apa hubungannya dengan koran Le Monde?

▒ Lama baca < 1 menit

Seputar DabsiheMonde butter cookies Nissin — Blogombal.com

Lidah saya memang buruk, hanya tahu bahwa Nissin Danish Monde lebih enak daripada Khong Guan Assorted Biscuits. Dalam hal roti, kue, dan pastri, saya memang payah. Apa kekhasan roti Jepang pun saya tak dapat mengenali. Demikian pula untuk kue mentega Denmark; saya pernah mencicipi kue mentega dari sana lebih enak, tak semanis Monde dari Ungaran, Jateng, maupun Cikarang, Jabar.

Adapun tentang merek Monde saya tak tahu mengapa produsen memilih jenama itu. Rasanya seperti nama Prancis, karena mengingatkan saya kepada koran Le Monde. Cara melafalkan monde ala Prancis saya tidak bisa, malah kadang terdengar “mong”. Monde berarti dunia, maka ada kata sifat mondial — artinya mendunia, global.

Seputar DabsiheMonde butter cookies Nissin — Blogombal.com

Dulu saya punya sejawat, hanya dia yang paham membaca Le Monde dan Paris Match di perpustakaan kantor. Dialah yang mencontohkan cara melafalkan monde tetapi berbeda dari panduan di YouTube.

Begitulah, saat melihat sesuatu yang sudah lumrah, karena saking lama berlangsung, misalnya kue kalengan dari Nissin, kadang malah saya pikirkan. Padahal tak penting. Tetapi bukankah saya bilang ngeblog untuk mengerem kepikunan? Namun nyatanya rem itu kini tidak pakem.

Lalu? Kertas label itu akhirnya saya pakai untuk pembatas halaman buku baru karena dari penerbit tak ada bonus pembatas yang biasanya memanfaatkan sisa potongan kertas sampul.

Seputar DabsiheMonde butter cookies Nissin — Blogombal.com

4 Comments

@sandalian Rabu 28 Januari 2026 ~ 09.09 Reply

Di musim hujan, saya sering lihat pemotor memakai jas hujan bermerk “elmondo”.

Saat melihatnya, kepala saya otomatis memutar lagu “Il Mondo”-nya Engelbert Humperdinck.

Pemilik Blog Rabu 28 Januari 2026 ~ 21.29 Reply

Duh, bapak muda yang berbahaya ini suka lagu yang lebih tua dari saya 🫢🫣

lina Jumat 23 Januari 2026 ~ 22.49 Reply

saya sering pakai struk toko sebagai pembatas buku, wkwk. lalu soal le monde, saya sempat rutin mengikuti koran itu. terakhir kali benar-benar saya perhatikan koran itu adalah saat peristiwa 7 oktober. menurut saya, liputannya mereka waktu itu cukup kritis dan berimbang, terutama kalau dibandingkan banyak media internasional lain yang sejak awal sudah keburu ambil posisi dan bias. sempat mikir apa karena bahasa utamanya bukan bahasa inggris sehingga cenderung lebih aman dari intervensi.

Pemilik Blog Sabtu 24 Januari 2026 ~ 09.27 Reply

Idem, saya sering memanfaatkan setruk toko. Tapi sayang kalau memakai kertas termal akan pudar. Kalau memesan secara daring, saya potong label pengiriman untuk pembatas. Bungkus teh celup juga sering saya jadikan pembatas. Grenjeng sigaret juga. Setruk toko dan label pengiriman itu artefak yang memuat data transaksi. 😇

Tinggalkan Balasan