
“Jangan. Udah melempem soalnya seharian hujan,” kata pramusaji warung padang langganan saya kemarin malam. Saat itu dari meja saya minta rempeyek, biasa disingkat peyek, dan sebagian orang Jawa menyebutnya iwak pèyèk.

Peyek di sana kalau di luar hujan lama akan tersapa udara lembap sehingga tidak kemripik. Sudah lebih dari sekali orang kedai menolak memberikan peyek saat hujan deras apalagi sampai lama. Ketika saya coba memang agak alot. Bagi saya ini kejujuran yang patut disokong dengan tabik.

Pekan lalu di Puri Daan Mogot, Kalideres, Jakbar, saat membeli pengecas ponsel murmer, satu set kepala dan kabel, karena saya tak membawanya, pramuniaganya tanpa saya minta mengetes barang yang saya pilih.
“Ini nggak bagus, on-off, nggak lancar ngecasnya,” kata Si Mbak. Lalu dia ambil merek dan tipe yang sama. Juga burook. Lalu ganti merek, hasilnya idem. Pada pilihan berikutnya, beda merek, pengecasan lancar. Indikator halilintar di layar ponsel tidak putus-putus. Saya sih percaya saja.
“Ambil ini aja, Pak. Malah lebih murah,” katanya. Saya berterima kasih. Saya sempat berprasangka, dua barang yang disebut gagal itu akan dicobakan untuk pembeli berikutnya. Misalnya demikian, yang penting konsumen dapat barang yang dia percaya genah.

3 Comments
Pedagang yg baik.. nggak mikir keuntungan besar dalam jangka pendek. Lha tapi iwak peyeknya dipajang terus, kan bikin kepingin cicipin 😁
Saya suka peyek warung itu. Versi yang dulu lebih tipis dan kemripik, kalo dibawa pulang kudu ati-ati soalnya bisa patah bahkan remuk. Diameter di peyek seukuran piring makan.
BTW di sebuah kedai penjual gule dan rawon, agak jauh dari rumah, permintaan saya dan istri untuk dua makanan itu ditolak karena daging yang bagus sudah habis. Kedai kecil itu bagian dari toko daging besar. Maksud saya yang besar tokonya dan grupnya.